<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DODOL BATIK TOKO BATIK ONLINE</title>
	<atom:link href="http://dodolbatik.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dodolbatik.com</link>
	<description>Toko Batik dan Butik Batik Online, Baju Batik, Kain Batik, Batik Indonesia, Batik Tulis, Batik Cap, Celana batik, Kaos Batik, Blouse batik, Aksesoris Batik</description>
	<lastBuildDate>Fri, 05 Feb 2010 12:13:36 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<image>
<link>http://dodolbatik.com</link>
<url>http://dodolbatik.com/wp-content/plugins/maxblogpress-favicon/icons/favicon-72.ico</url>
<title>DODOL BATIK TOKO BATIK ONLINE</title>
</image>
		<item>
		<title>Laweyan Batik Village</title>
		<link>http://dodolbatik.com/2010/02/05/laweyan-batik-village.php</link>
		<comments>http://dodolbatik.com/2010/02/05/laweyan-batik-village.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Feb 2010 12:13:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Batik]]></category>
		<category><![CDATA[Batik Solo]]></category>
		<category><![CDATA[Batik Java]]></category>
		<category><![CDATA[Batik of Java]]></category>
		<category><![CDATA[Batik Village]]></category>
		<category><![CDATA[Laweyan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dodolbatik.com/?p=117</guid>
		<description><![CDATA[Laweyan is one of the central Batik in Solo. This village was of course there are a lot of history left in this and become kapung icon Batik Solo.
Batik is a traditional art works that many people ditekuni Laweyan. Since the 19th century, this village was known as batik village. That is why the village [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span id="result_box"><span style="background-color: #ffffff;" title="Laweyan adalah salah satu sentral Batik di Solo." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Laweyan is one of the central Batik in Solo. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Kampung ini Tentunya ada banyak sekali sejarah yang tertinggal di kapung ini dan menjadi icon Batik Solo." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">This village was of course there are a lot of history left in this and become kapung icon Batik Solo.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="background-color: #ffffff;" title="Batik merupakan hasil karya seni tradisional yang banyak ditekuni masyarakat Laweyan." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Batik is a traditional art works that many people ditekuni Laweyan. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Sejak abad ke-19 kampung ini sudah dikenal sebagai kampung batik." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Since the 19th century, this village was known as batik village. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Itulah sebabnya kampung Laweyan pernah dikenal sebagai kampung juragan batik yang mencapai kejayaannya di era tahun 70-an." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">That is why the village Laweyan village once known as batik masters who achieved glory at the age of 70 years. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Menurut Alpha yang juga pengelola Batik Mahkota." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">According to Alpha is also the manager of the Crown Batik. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Di kawasan Laweyan ada Kampung Laweyan, Tegalsari, Tegalayu, Batikan, dan Jongke, yang penduduknya banyak yang menjadi produsen dan pedagang batik, sejak dulu sampai sekarang." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">In this area there Kampung Laweyan Laweyan, Tegalsari, Tegalayu, Batikan, and Jongke, the population becomes much batik producers and traders, had always been until now. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Di sinilah tempat berdirinya Syarekat Dagang Islam, asosiasi dagang pertama yang didirikan oleh para produsen dan pedagang batik pribumi, pada tahun 1912." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">This is where the establishment of the Islamic Trade Syarekat, the first trade association founded by the producers and traders of indigenous batik, in 1912.<br />
</span><span style="background-color: #ffffff;" title="Bekas kejayaan para saudagar batik pribumi tempo doeloe yang biasa disebut 'Gal Gendhu' ini bisa dilihat dari peninggalan rumah mewahnya." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Former glory native batik merchants tempo doeloe commonly called &#8216;Gal Gendhu&#8217; can be seen from the legacy of his palatial home. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Di kawasan ini, mereka memang menunjukkan kejayaannya dengan berlomba membangun rumah besar yang mewah dengan arsitektur cantik." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">In this area, they did show his glory with a race to build a luxury mansion with beautiful architecture.</span><span id="result_box"><span style="background-color: #ffffff;" title="Di kawasan ini, mereka memang menunjukkan kejayaannya dengan berlomba membangun rumah besar yang mewah dengan arsitektur cantik." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'"><br />
</span><span style="background-color: #ffffff;" title="Kawasan Laweyan dilewati Jalan Dr Rajiman, yang berada di poros Keraton Kasunanan Surakarta - bekas Keraton Mataram di Kartasura." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Regions Laweyan skipped Rajiman Road Dr., who was in the pivot Kasunanan Surakarta Palace &#8211; former royal palace in Kartasura Mataram. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Dari Jalan Dr Rajiman ini, banyak terlihat tembok tinggi yang menutupi rumah-rumah besar, dengan pintu gerbang besar dari kayu yang disebut regol." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Dr Jalan Rajiman of this, many see the high walls that covered large houses, with large gates of wood called REGOL. </span><span title="Sepintas tak terlalu menarik, bahkan banyak yang kusam." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">At first glance not too interesting, even a dull lot. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Tapi begitu regol dibuka, barulah tampak bangunan rumah besar dengan arsitektur yang indah." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">But once REGOL opened, then was building a big house with beautiful architecture. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Biasanya terdiri dari bangunan utama di tengah, bangunan sayap di kanan-kirinya, dan bangunan pendukung di belakangnya, serta halaman depan yang luas." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Usually consists of the main building in the center, building wings on either side, and building support behind him, as well as a broad front page.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="background-color: #ffffff;" title="Dengan bentuk arsitektur, kemewahan material, dan keindahan ornamennya, seolah para raja batik zaman dulu mau menunjukkan kemampuannya untuk membangun istananya, meski dalam skala yang mini." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">With this form of architecture, luxurious materials, and beauty of ornament, as the king of ancient batik to demonstrate its ability to build his palace, though in a miniature scale. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Salah satu contoh yang bisa dilihat adalah rumah besar bekas saudagar batik yang terletak di pinggir Jalan Dr Rajiman, yang dirawat dan dijadikan homestay Roemahkoe yang dilengkapi restoran Lestari." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">One example that could be seen was the former home of batik merchant located on the side of Jalan Dr Rajiman, treated and used as a homestay Roemahkoe Lestari equipped restaurant.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="background-color: #ffffff;" title="Tentu saja tak semuanya bisa membangun &quot;istana&quot; yang luas, karena di kanan-kirinya adalah lahan tetangga yang juga membangun &quot;istana&quot;-nya se" onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Of course not all of them can build a &#8220;palace&#8221; is broad, because on either side of the neighboring land and built a &#8220;palace&#8221; was a<br />
</span><span title="ndiri-sendiri." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">ndiri-own. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Alhasil, kawasan ini dipenuhi dengan berbagai istana mini, yang hanya dipisahkan oleh tembok tinggi dan gang-gang sempit." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">As a result, this area is filled with mini palace, which is only separated by high walls and narrow alleys. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Semangat berlomba membangun rumah mewah ini tampaknya mengabaikan pentingnya ruang publik." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">The spirit of racing to build luxury homes seem to ignore the importance of public space. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Jalan-jalan kampung menjadi sangat sempit." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Village roads become very narrow. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Terbentuklah banyak gang dengan lorong sempit yang hanya cukup dilewati satu orang atau sepeda motor." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Formed many of the aisle with a narrow enough to pass only one person or motorcycles.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span title="Tapi di sinilah uniknya." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">But here unique. </span><span title="Menelusuri lorong-lorong sempit di antara tembok tinggi rumah-rumah kuno ini sangat mengasyikkan." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Navigate the narrow passage between high walls of ancient houses are very exciting. </span><span title="Kita seolah berjalan di antara monumen sejarah kejayaan pedagang batik tempo doeloe." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">We seemed to walk in between the triumph of historical monuments tempo doeloe batik traders. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Pola lorong-lorong sempit yang diapit tembok rumah gedongan yang tinggi semacam ini juga terdapat di kawasan Kauman, Kemlayan, dan Pasar Kliwon." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Pattern of narrow alleys lined with walls of the house high Gedongan this kind in the region also Kauman, Kemlayan, and Market Kliwon. </span><span title="Karena mengasyikkan, menelusuri lorong-lorong sejarah kejayaan Laweyan yang eksotis ini bisa menghabiskan waktu." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Because the fun, browse the aisles glorious history of this exotic Laweyan can spend. </span><span title="Apalagi jika Anda melongok ke dalam, melihat isi dan keindahan ornamen semua &quot;istana&quot; di kawasan ini." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Especially if you looked in, saw the contents and the beauty of the ornament of all &#8220;palace&#8221; in the region.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span title="Tapi sayangnya satu per satu bangunan kuno yang berarsitektur cantik, hancur digempur zaman, digantikan ruko atau bangunan komersial baru yang arsitekturnya sama sekali tidak jelas." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">But unfortunately, one by one ancient building beautiful architecture, broken battered era, replaced by shop or a new commercial building architecture is not entirely clear. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Pemerintah daerah setempat tak bertindak apa pun menghadapi kerusakan artefak sejarah ini." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Local governments do not act anything against this historical artifact damage. </span><span title="Bahkan bekas rumah Ketua Sarekat Dagang Islam H." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Even the former home of the Chairman of the Islamic Trade SI H. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Samanhoedi, yang seharusnya dilindungi sebagai saksi sejarah, sudah tidak utuh lagi, bagian depannya digempur habis." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Samanhoedi, which should be protected as a witness of history, is not intact anymore, battered down the front. </span><span title="Bekas istana Mataram di Kartasura juga dibiarkan hancur berantakan." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Former palace of Mataram in Kartasura also left in ruins.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dodolbatik.com/2010/02/05/laweyan-batik-village.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Origin and History of Batik</title>
		<link>http://dodolbatik.com/2010/02/02/origin-and-history-of-batik.php</link>
		<comments>http://dodolbatik.com/2010/02/02/origin-and-history-of-batik.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Feb 2010 12:11:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Batik]]></category>
		<category><![CDATA[batik]]></category>
		<category><![CDATA[History]]></category>
		<category><![CDATA[Origin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dodolbatik.com/?p=114</guid>
		<description><![CDATA[History of batik in Indonesia are closely related with the development and spread of the Majapahit kingdom in the land of Islam Java. In some records, the development of batik is often committed in times of Mataram job, then the kingdom of Solo and Yogyakarta. 
So this batik art in Indonesia has been known since [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span id="result_box"><span style="background-color: #ffffff;" title="Sejarah pembatikan di Indonesia berkait erat dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan penyebaran ajaran Islam di Tanah Jawa." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">History of batik in Indonesia are closely related with the development and spread of the Majapahit kingdom in the land of Islam Java. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerjaan Mataram, kemudian pada masa kerajaan Solo dan Yogyakarta." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">In some records, the development of batik is often committed in times of Mataram job, then the kingdom of Solo and Yogyakarta. </span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span id="result_box"><span style="background-color: #ffffff;" title="Jadi kesenian batik ini di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerjaan Majapahit dan terus berkembang kepada kerajaan dan raja-raja berikutnya." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">So this batik art in Indonesia has been known since the time of Majapahit jobs and growing the kingdom and the subsequent kings. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Adapun mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad ke-18 atau awal abad ke-19." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">The start spreading this batik art belongs to the people of Indonesia and Java in particular tribe is after the end of the 18th century or early 19th century. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad ke-20 dan batik cap dikenal baru setelah perang dunia I habis atau sekitar tahun 1920." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Produced batik batik is all until the early 20th century and printed batik is known only after World War I out or around the year 1920. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Adapun kaitan dengan penyebaran ajaran Islam, banyak daerah-daerah pusat perbatikan di Jawa adalah daerah-daerah santri dan kemudian Batik menjadi alat perjuangan ekonomi oleh tokoh-tokoh pedangan Muslim melawan perekonomian Belanda." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">The connection with the spread of Islam, many central areas in Java is perbatikan areas Batik students and later became a tool of economic struggle by people against the Muslim pedangan Dutch economy. </span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span></span><span id="result_box"><span style="background-color: #ffffff;" title="Kesenian batik adalah kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluaga raja-raja Indonesia zaman dulu." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Art is the art of batik on fabric image for clothing that became one culture keluaga Indonesian kings of old. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam kraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Batik initially done only in a limited course and outcome palace for the king and the family clothing and his followers. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Oleh karena banyak dari pengikut raja yang tinggal diluar kraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar kraton dan dikerjakan di tempatnya masing-masing." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Because many of the followers of the king who lived outside the palace, the art of batik was taken by them out of court and do at each place. </span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span id="result_box"><span style="background-color: #ffffff;" title="Lama-lama kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya untuk mengisi waktu senggang." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Long batik art was imitated by the people nearest and further extends to the work of women in the household to fill his spare time. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Selanjutnya, batik yang tadinya hanya pakaian keluarga kraton, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Furthermore, batik clothing was just a family court, then became a popular folk clothes, both women and men. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Bahan kain putih yang dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">White fabric that is used when it is woven themselves. </span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span id="result_box"><span style="background-color: #ffffff;" title="Sedang bahan-bahan pewarna yang dipakai tediri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri antara lain dari: pohon mengkudu, tinggi, soga, nila, dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanahlumpur." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Materials were used consists dyes from native plants homemade Indonesia among others, from: mengkudu tree, tall, Soga, indigo, and flat materials made from soda ash, as well as salts made from tanahlumpur. </span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span id="result_box"><span style="background-color: #ffffff;" title="Batik yang telah menjadi kebudayaan di kerajaan Majahit, dapat ditelusuri di daerah Mojokerto dan Tulung Agung." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Batik has become the kingdom Majahit culture, can be traced in the Mojokerto and Tulung Agung. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Mojoketo adalah daerah yang erat hubungannya dengan kerajaan Majapahit semasa dahulu dan asal nama Majokerto ada hubungannya dengan Majapahit." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Mojoketo are areas closely associated with the Majapahit kingdom during the first and the origin of the name have anything to do with Majokerto Majapahit. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Kaitannya dengan perkembangan batik asal Majapahit berkembang di Tulung Agung adalah riwayat perkembangan pembatikan didaerah ini, dapat digali dari peninggalan di zaman kerajaan Majapahit." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Relation to the development of original batik developed in Tulung Majapahit Agung is the history of batik development of this area, can be extracted from the legacy of Majapahit Kingdom era. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Pada waktu itu daerah Tulungagung yang sebagian terdiri dari rawa-rawa dalam sejarah terkenal dengan nama daerah Bonorowo, yang pada saat bekembangnya Majapahit daerah itu dikuasai oleh seorang yang benama Adipati Kalang, dan tidak mau tunduk kepada kerajaan Majapahit." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">At that time the majority of Tulungagung areas consist of swamps in the history of the area known as Bonorowo, which at the time of Majapahit bekembangnya area controlled by a Duke benama Kalang, and will not submit to the Majapahit kingdom. </span></span></p>
<p style="text-align: center;"><a href="../wp-content/uploads/2009/11/034batik_image.jpg" rel="shadowbox[post-114];player=img;"><img class="aligncenter" title="001_dodolbatik.com" src="http://dodolbatik.com/wp-content/plugins/autothumb/image.php?src=/../wp-content/uploads/2009/11/034batik_image.jpg&amp;aoe=1&amp;q=100&amp;w=400&amp;h=300&amp;hash=00e2bfb7a6c2d5a0e737a743204a487d" alt="001_dodolbatik.com" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><span id="result_box"><span style="background-color: #ffffff;" title="Diceritakan bahwa dalam aksi polisionil yang dilancarkan oleh Majapahati, Adipati Kalang tewas dalam pertempuran yang konon dikabarkan di sekitar desa yang sekarang bernama Kalangbret." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Told that the police action carried out by Majapahati, Duke Kalang killed in fighting that reportedly rumored around the village which is now called Kalangbret. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Demikianlah maka petugas-petugas tentara dan keluara kerajaan Majapahit yang menetap dan tinggal di wilayah Bonorowo atau yang sekarang bernama Tulungagung antara lain juga membawa kesenian membuat batik asli." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Thus the officers and soldiers of the Majapahit kingdom keluara settled and lived in the area or the current Bonorowo named Tulungagung among others also carry original art to make batik.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="background-color: #ffffff;" title="Daerah pembatikan sekarang di Mojokerto terdapat di Kwali, Mojosari, Betero dan Sidomulyo." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Regional batik is now at Mojokerto in Kwali, Mojosari, Betero and Sidomulyo. </span><span title="Di luar daerah Kabupaten Mojokerto ialah di Jombang." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Outside the Mojokerto regency was in Jombang. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Pada akhir abad ke-19 ada beberapa orang kerajinan batik yang dikenal di Mojokerto, bahan-bahan yang dipakai waktu itu kain putih yang ditenun sendiri dan obat-obat batik dari soga jambal, mengkudu, nila tom, tinggi dan sebagainya." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">In the late 19th century, there are some known batik in Mojokerto, the materials used at that time white cloth woven themselves and batik drugs from Jambal Soga, mengkudu, indigo tom, height and so on.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="background-color: #ffffff;" title="Obat-obat luar negeri baru dikenal sesudah perang dunia I yang dijual oleh pedagang-pedagang Cina di Mojokerto." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Drugs known abroad only after World War I that are sold by Chinese traders in Mojokerto. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Batik cap dikenal bersamaan dengan masuknya obat-obat batik dari luar negeri." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Printed batik is known along with the entry of drugs from abroad batik. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Cap dibuat di Bangil dan pengusaha-pengusaha batik Mojokerto dapat membelinya di pasar Porong Sidoarjo." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Cap made in Bangil and entrepreneurs can buy batik Mojokerto in Sidoarjo Porong market. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Pasar Porong ini sebelum krisis ekonomi dunia dikenal sebagai pasar yang ramai, dimana hasil-hasil produksi batik Kedungcangkring dan Jetis Sidoarjo banyak dijual." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">This Porong market before the world economic crisis known as the bustling market, where the results of batik production and Jetis Sidoarjo Kedungcangkring lots sold. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Waktu krisis ekonomi, pengusaha batik Mojoketo ikut lumpuh, karena pengusaha-pengusaha kebanyakan kecil usahanya." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">When the economic crisis, batik entrepreneurs come Mojoketo paralyzed, because most entrepreneurs small business. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Sesudah krisis kegiatan pembatikan timbul kembali sampai Jepang masuk ke Indonesia, dan waktu pendudukan Jepang kegiatan pembatikan lumpuh lagi." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">After the crisis recur batik activities until the Japanese came into Indonesia, and the time of the Japanese occupation batik activities paralyzed again. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Kegiatan pembatikan muncul lagi sesudah revolusi dimana Mojokerto sudah menjadi daerah pendudukan." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Batik activity appears again after the revolution which has become a regional Mojokerto occupation.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="background-color: #ffffff;" title="Ciri khas dari batik Kalangbret dari Mojokerto adalah hampir sama dengan batik-batik keluaran Yogyakarta, yaitu dasarnya putih dan warna coraknya coklat muda dan biru tua." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Characteristic of batik Kalangbret of Mojokerto is almost equal to the output of batik-batik of Yogyakarta, which is essentially coraknya white and brown color and dark blue. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Tempat pembatikan yang dikenal sejak lebih dari seabad lalu adalah di desa Majan dan Simo." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Batik place known since more than a century ago was in the village Majan and Simo. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Desa ini juga mempunyai riwayat sebagai peninggalan dari zaman peperangan Pangeran Diponegoro tahun 1825." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">The village also has a history as a relic from the time of Prince Diponegoro war in 1825.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="background-color: #ffffff;" title="Meskipun pembatikan dikenal sejak jaman Majapahait namun perkembangan batik mulai menyebar pesat di daerah Jawa Tengah Surakarta dan Yogyakata, pada jaman kerajaan di daerah ini." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Although known since ancient batik but Majapahait batik development began to spread rapidly in the region of Surakarta and Central Java Yogyakata, in the era of the kingdom in this region. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Hal itu tampak bahwa perkembangan batik di Mojokerto dan Tulung Agung berikutnya lebih dipenagruhi corak batik Solo dan Yogyakarta." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">It seems that the development of batik in Mojokerto and subsequent Supreme Tulung more dipenagruhi pattern Solo and Yogyakarta batik.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="background-color: #ffffff;" title="Ketika berkecamuknya clash antara tentara kolonial Belanda dengan pasukan-pasukan pangeran Diponegoro maka sebagian dari pasukan-pasukan Kyai Mojo mengundurkan diri ke arah timur dan sampai sekarang bernama Majan." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">When the wake of clash between the Dutch colonial army troops prince Diponegoro then some of the troops withdrew Kyai Mojo eastward and until now called Majan. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Sejak zaman penjajahan Belanda hingga zaman kemerdekaan ini desa Majan berstatus desa Merdikan (Daerah Istimewa), dan kepala desanya seorang kyai yang statusnya turun-temurun." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Since the Dutch colonial era to the era of independence this status Majan village village Merdikan (Special Region), and the village head of a kyai hereditary status. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Pembuatan batik Majan ini merupakan naluri (peninggalan) dari seni membuat batik zaman perang Diponegoro itu." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Majan batik is an instinct (heritage) of the art of making batik Diponegoro war era.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="background-color: #ffffff;" title="Warna babaran batik Majan dan Simo adalah unik karena warna babarannya merah menyala (dari kulit mengkudu) dan warna lainnya dari tom." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Color babaran Majan and Simo batik is unique because of the color red babarannya (from skin mengkudu) and other colors of the tom. </span><span title="Salah satu sentra batik sejak dahulu ada di daerah desa Sembung, yang para pengusaha batik kebanyakan berasal dari Solo yang datang di Tulungagung pada akhir abad ke-19." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">One of the first centers of batik since there Sembung rural areas, which batik entrepreneurs mostly from Solo who came in Tulungagung in the late 19th century. </span><span title="Hanya sekarang masih terdapat beberapa keluarga pembatikan dari Solo yang menetap di daerah Sembung." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Only now there are still some families who batik from Solo Sembung settled in the area. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Selain dari tempat-tempat tesebut juga terdapat daerah pembatikan di Trenggalek dan juga ada beberapa di Kediri, tetapi sifat pembatikan sebagian kerajinan rumah tangga dan babarannya batik tulis." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Apart from the places where there are also areas tesebut batik in Trenggalek and also some in Kediri, but the nature of some of the batik craft and household babarannya batik.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span title="Jaman Penyebaran Islam" onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">The spread of Islamic era</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="background-color: #ffffff;" title="Riwayat pembatikan di daerah Jawa Timur lainnya adalah di Ponorogo, yang kisahnya berkaitan dengan penyebaran ajaran Islam di daerah ini." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">History of batik in other areas of East Java is in Ponorogo, whose story is related to the spread of Islam in this area. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Riwayat seni batik didaerah Ponorogo erat hubungannya dengan perkembangan agama Islam dan kerajaan-kerajaan dahulu." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Batik art history Ponorogo area closely related to the development of Islamic religion and former kingdoms. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Konon, di daerah Batoro Katong, ada seorang keturunan dari kerajaan Majapahit yang namanya Raden Katong adik dari Raden Patah." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">It was said in Batoro Katong area, there is a descendant of the Majapahit kingdom Katong named Raden Raden Patah&#8217;s brother. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Batoro Katong inilah yang membawa agama Islam ke Ponorogo dan petilasan yang ada sekarang ialah sebuah mesjid didaerah Patihan Wetan." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Katong Batoro religion is what brought Islam to the Ponorogo and current petilasan is a mosque Patihan Wetan area.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="background-color: #ffffff;" title="Perkembangan selanjutanya, di Ponorogo, di daerah Tegalsari ada sebuah pesantren yang diasuh Kyai Hasan Basri atau yang dikenal dengan sebutan Kyai Agung Tegalsari." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Selanjutanya development, in Ponorogo, the area was a boarding school Tegalsari raised Kyai Hasan Basri, or known as the Great Tegalsari Kyai. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Pesantren Tegalsari ini selain mengajarkan agama Islam juga mengajarkan ilmu ketatanegaraan, ilmu perang dan kesusasteraan." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">This Tegalsari pesantren teach religion other than Islam also teaches administrative sciences, sciences and literature of war. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Seorang murid yang terkenal dari Tegalsari dibidang sastra ialah Raden Ronggowarsito." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">A famous disciple of the literary field is Tegalsari Ronggowarsito Raden. </span><span title="Kyai Hasan Basri ini diambil menjadi menantu oleh raja Kraton Solo." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Kyai Hasan Basri was taken into law by the king of the Kingdom of Solo.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="background-color: #ffffff;" title="Waktu itu seni batik baru terbatas dalam lingkungan kraton." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">At that time a new batik art is limited in the environment court. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Oleh karena putri keraton Solo menjadi istri Kyai Hasan Basri maka dibawalah ke Tegalsari dan diikuti oleh pengiring-pengiringnya." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Therefore Solo palace daughter became the wife of Kyai Hasan Basri then brought to the Tegalsari and followed by escort-escort. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Di samping itu banyak pula keluarga kraton Solo belajar di pesantren ini." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">In addition, many family courts Solo also studied in this pesantren. </span><span title="Peristiwa inilah yang membawa seni batik keluar dari kraton menuju ke Ponorogo." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">This event is brought batik art from the palace to the Ponorogo. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Pemuda-pemudi yang dididik di Tegalsari ini kalau sudah keluar, dalam masyarakat akan menyumbangkan dharma batiknya dalam bidang-bidang kepamongan dan agama." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Young people educated in this Tegalsari when it came out, the community will contribute in the dharma batik kepamongan areas and religion.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="background-color: #ffffff;" title="Daerah perbatikan lama yang bisa kita lihat sekarang ialah daerah Kauman yaitu Kepatihan Wetan sekarang dan dari sini meluas ke desa-desa Ronowijoyo, Mangunsuman, Kertosari, Setono, Cokromenggalan, Kadipaten, Nologaten, Bangunsari, Cekok, Banyudono dan Ngunut." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Old perbatikan areas we&#8217;re seeing today is the area that is Kepatihan Wetan Kauman now and from here spread to the villages Ronowijoyo, Mangunsuman, Kertosari, Setono, Cokromenggalan, Duchy, Nologaten, Bangunsari, Cekok, and NGUNUT Banyudono. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Waktu itu obat-obat yang dipakai dalam pembatikan ialah buatan dalam negeri sendiri dari kayu-kayuan antara lain: pohon tom, mengkudu, kayu tinggi." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">At that time drugs were used in the batik is made in their own country from the woods, among others: tree tom, mengkudu, tall timber. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Sedangkan bahan kain putihnya juga memakai buatan sendiri dari tenunan gendong." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">While the material is also wearing a white cloth made from woven wear. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Kain putih impor baru dikenal di Indonesia kira-kira akhir abad ke-19." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">New imports of white cloth in Indonesia is known about the late 19th century.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="background-color: #ffffff;" title="Pembuatan batik cap di Ponorogo baru dikenal setelah perang dunia pertama yang dibawa oleh seorang Cina bernama Kwee Seng dari Banyumas." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Batik stamp on the new Ponorogo known after the first world war brought by a Chinese named Kwee Seng from Banyumas. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Daerah Ponorogo awal abad ke-20 terkenal batiknya dalam pewarnaan nila yang tidak luntur dan itulah sebabnya pengusaha-pengusaha batik dari Banyumas dan Solo banyak memberikan pekerjaan kepada pengusaha-pengusaha batik di Ponorogo." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Regional Ponorogo early 20th century in the famous batik indigo dye that does not fade and that&#8217;s why batik entrepreneurs from Banyumas and Solo provides employment to many entrepreneurs in Ponorogo batik. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Akibat dikenalnya batik cap maka produksi Ponorogo setelah perang dunia petama sampai pecahnya perang dunia kedua terkenal dengan batik kasarnya yaitu batik cap mori biru." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">As a result of the familiar printed batik production Ponorogo petama world after the war until the outbreak of the second world war famous for its batik is batik cap rough blue mori. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Pasaran batik cap kasar Ponorogo kemudian terkenal seluruh Indonesia." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Crude market Ponorogo printed batik became known throughout Indonesia.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span title="Batik Solo dan Yogyakarta" onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Solo and Yogyakarta Batik</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="background-color: #ffffff;" title="Dari kerjaan-kerajaan di Solo dan Yogyakarta sekitar abad 17,18 dan 19, batik kemudian berkembang luas, khususnya di wilayah Pulau Jawa." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">From work-kingdom in Solo and Yogyakarta around 17.18 and 19th centuries, batik and widespread, especially in the areas of Java Island. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Awalnya batik hanya sekadar hobi dari para keluarga raja di dalam berhias lewat pakaian." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Batik initially just a hobby of the royal family in the ornate through clothing. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Namun perkembangan selanjutnya, oleh masyarakat batik dikembangkan menjadi komoditi perdagamgan." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">However, further development, the community developed into a commodity batik perdagamgan.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="background-color: #ffffff;" title="Batik Solo terkenal dengan corak dan pola tradisionalnya batik dalam proses cap maupun dalam batik tulisnya." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Solo Batik is famous for its traditional style and patterns in the process of batik and the batik stamp he wrote. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Bahan-bahan yang dipergunakan untuk pewarnaan masih tetap banyak memakai bahan-bahan dalam negeri seperti soga Jawa yang sudah terkenal sejak dari dahulu." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">The materials used for coloring is still a lot of wear materials such as Soga domestic well-known Java since the first. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Polanya tetap antara lain terkenal dengan “Sidomukti” dan “Sidoluruh”." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">The pattern remained among others known as &#8220;Sidomukti&#8221; and &#8220;Sidoluruh&#8221;.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span title="002_dodolbatik.com" onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">002_dodolbatik.com</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="background-color: #ffffff;" title="Sedangkan Asal-usul pembatikan di daerah Yogyakarta dikenal semenjak kerajaan Mataram ke-I dengan rajanya Panembahan Senopati." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">While origins of batik in the Yogyakarta area known since the kingdom of Mataram to-I with its king Panembahan Senopati. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Daerah pembatikan pertama ialah di desa Plered." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">The first area is in the batik Plered village. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Pembatikan pada masa itu terbatas dalam lingkungan keluarga kraton yang dikerjakan oleh wanita-wanita pembantu ratu." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Batik at the time limited within the family court which was done by the women helpers queen. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Dari sini pembatikan meluas pada trap pertama pada keluarga kraton lainnya yaitu istri dari abdi dalem dan tentara-tentara." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">From here batik extends to the first trap on the other court the family is the wife of the courtiers and soldiers. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Pada upacara resmi kerajaan keluarga kraton baik pria maupun wanita memakai pakaian dengan kombinasi batik dan lurik." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">At the official ceremony of the royal court families both men and women wearing clothes with a combination of batik and striated. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Oleh karena kerajaan ini mendapat kunjungan dari rakyat dan rakyat tertarik pada pakaian-pakaian yang dipakai oleh keluarga kraton dan ditiru oleh rakyat dan akhirnya meluaslah pembatikan keluar dari tembok kraton." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Because of this kingdom received a visit from the people and the people interested in the clothes worn by the family court and imitated by the people and eventually spread out batik out of the palace walls.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="background-color: #ffffff;" title="Akibat dari peperangan zaman dahulu baik antara keluarga raja-raja maupun antara penjajahan Belanda, maka banyak keluarga-keluarga raja yang mengungsi dan menetap di daerah-daerah baru antara lain ke Banyumas, Pekalongan, dan ke daerah timur Ponorogo, Tulungagung dan sebagainya." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">As a result of both the ancient war between the families of kings, and between Dutch colonialism, many families fled and the king who settled in new areas such as the Banyumas, Pekalongan, and the eastern area of Ponorogo, Tulungagung and so on. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Meluasnya daerah pembatikan ini sampai ke daerah-daerah itu menurut perkembangan sejarah perjuangan bangsa Indonesia dimulai abad ke-18." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">The spread of this batik areas to areas of historical development, according to Indonesian national struggle began the 18th century. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Keluarga-keluarga kraton yang mengungsi inilah yang mengembangkan pembatikan ke seluruh pelosok pulau Jawa yang ada sekarang dan berkembang menurut alam dan daerah baru itu." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Families who fled the palace is a developed batik to all corners of the island of Java and the existing natural and developed according to the new area.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span title="Perang Pangeran Diponegoro melawan Belanda, mendesak sang pangeran dan keluarganya serta para pengikutnya harus meninggalkan daerah kerajaan." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Diponegoro war against the Netherlands, urged the prince and his family and his followers had to leave the kingdom. </span><span title="Mereka kemudian tersebar ke arah timur dan barat." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">They then spread to the east and west. </span><span title="Kemudian di daerah-daerah baru itu para keluarga dan pengikut pangeran Diponegoro mengembangkan batik." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Then in the new areas that the family and followers of Prince Diponegoro to develop batik.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="background-color: #ffffff;" title="Ke timur batik Solo dan Yogyakarta menyempurnakan corak batik yang telah ada di Mojokerto serta Tulung Agung." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">To the east of Solo and Yogyakarta batik style batik refine existing in Mojokerto and Tulung Agung. </span><span title="Selain itu juga menyebar ke Gresik, Surabaya dan Madura." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">It also spread to Gresik, Surabaya and Madura. </span><span title="Sedang ke arah Barat batik berkembang di Banyumas, Pekalongan, Tegal, Cirebon." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Westward was developed in Banyumas Batik, Pekalongan, Tegal, Cirebon.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span title="Perkembangan Batik di Kota-kota lain" onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Batik developments in other cities</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="background-color: #ffffff;" title="Perkembangan batik di Banyumas berpusat di daerah Sokaraja dibawa oleh pengikut-pengikut Pangeran Diponegero setelah selesainya peperangan tahun 1830." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">The development of batik in Banyumas Sokaraja centered in the area brought by the followers of Prince Diponegero years after the 1830 war. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Mereka kebanyakan menetap di daerah Banyumas." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">They mostly settled in the area of Banyumas. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Pengikutnya yang terkenal waktu itu ialah Najendra dan dialah mengembangkan batik celup di Sokaraja." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Followers that the time was famous and he developed Najendra dip in Sokaraja batik. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Bahan mori yang dipakai hasil tenunan sendiri dan obat pewarna dipakai pohon tom, pohon pace dan mengkudu yang memberi warna merah kesemuan kuning." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Materials used mori homespun results and drugs used dyes tom tree, trees and mengkudu pace that gives the red color of yellow artificiality.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span title="Lama kelamaan pembatikan menjalar pada rakyat Sokaraja dan pada akhir abad ke-19 berhubungan langsung dengan pembatik di daerah Solo dan Ponorogo." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Batik gradually spread to the people Sokaraja and at the end of the 19th century was directly related to batik in Solo and Ponorogo. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Daerah pembatikan di Banyumas sudah dikenal sejak dahulu dengan motif dan warna khususnya dan sekarang dinamakan batik Banyumas." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Region in Banyumas batik has been known since before the motifs and colors in particular and is now called batik Banyumas. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Setelah perang dunia kesatu pembatikan mulai pula dikerjakan oleh Cina disamping mereka dagang bahan batik." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">After the world war started batik union also done by China in addition to their trade batik material. </span><span title="." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="background-color: #ffffff;" title="Sama halnya dengan pembatikan di Pekalongan, para pengikut Pangeran Diponegoro yang menetap di daerah ini kemudian mengembangkan usaha batik di sekitara daerah pantai ini, yaitu selain di daerah Pekalongan sendiri, batik tumbuh pesat di Buawaran, Pekajangan dan Wonopringgo." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Similar to batik in Pekalongan, the followers of Prince Diponegoro who settled in this area and develop business sekitara batik in this coastal area, namely in the area other than their own Pekalongan batik is growing rapidly in Buawaran, Pekajangan and Wonopringgo. </span><span title="Adanya pembatikan di daerah-daerah ini hampir bersamaan dengan pembatikan daerah-daerah lainnya yaitu sekitar abad ke-19." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">The existence of batik in these areas almost simultaneously with the batik other areas which is about the 19th century. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Perkembangan pembatikan di daerah-daerah luar selain dari Yogyakarta dan Solo erat hubungannya dengan perkembangan sejarah kerajaan Yogya dan Solo." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">The development of batik in the outer regions apart from Yogyakarta and Solo are closely related to the development of royal history of Yogyakarta and Solo.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="background-color: #ffffff;" title="Meluasnya pembatikan keluar dari kraton setelah berakhirnya perang Diponegoro dan banyaknya keluarga kraton yang pindah ke daerah-daerah luar Yogya dan Solo karena tidak mau kerjasama dengan pemerintah kolonial." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Widespread batik out of the palace after the end of the Diponegoro war and the many families who had moved court to areas outside of Yogyakarta and Solo for refusing cooperation with the colonial government. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Keluarga kraton itu membawa pengikut-pengikutnya ke daerah baru itu dan di tempat itu kerajinan batik terus dilanjutkan dan kemudian menjadi pekerjaan untuk pencaharian." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Family court brought its followers into new areas and in the place batik continued and then became a job for a living.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span title="Corak batik di daerah baru ini disesuaikan pula dengan keadaan daerah sekitarnya." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Batik pattern in this new area is also adapted to the circumstances surrounding areas. </span><span title="Pekalongan khususnya dilihat dari proses dan desainnya banyak dipengaruhi oleh batik dari Demak." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Pekalongan especially seen from the process and its design was heavily influenced by batik from Demak. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Sampai awal abad ke-20 proses pembatikan yang dikenal ialah batik tulis dengan bahan morinya buatan dalam negeri dan juga sebagian import." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Until the early 20th century batik process is known as batik morinya with artificial materials in the country and also some import. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Setelah perang dunia kesatu baru dikenal pembikinan batik cap dan pemakaian obat-obat luar negeri buatan Jerman dan Inggris." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">After the world war a new union known printed batik fabrication and use of drugs made overseas German and English.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="background-color: #ffffff;" title="Pada awal abad ke-20 pertama kali dikenal di Pekajangan ialah pertenunan yang menghasilkan stagen dan benangnya dipintal sendiri secara sederhana." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">In the early 20th century first became known in Pekajangan is producing stagen weaving and spinning the yarn itself is simple. </span><span title="Beberapa tahun belakangan baru dikenal pembatikan yang dikerjakan oleh orang-orang yang bekerja disektor pertenunan ini." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">In recent years new known batik done by the people who work this weaving sector. </span><span title="Pertumbuhan dan perkembangan pembatikan lebih pesat dari pertenunan stagen dan pernah buruh-buruh pabrik gula di Wonopringgo dan Tirto lari ke perusahaan-perusahaan batik, karena upahnya lebih tinggi dari pabrik gula." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Growth and more rapid development of batik weaving and never stagen workers in the sugar factory and Tirto Wonopringgo ran into batik companies, because higher wages than the sugar factory.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span title="Sedang pembatikan dikenal di Tegal akhir abad ke-19." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Batik was known in Tegal late 19th century. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Pewarna yang dipakai waktu itu buatan sendiri yang diambil dari tumbuh-tumbuhan: pace/mengkudu, nila, soga kayu dan kainnya tenunan sendiri." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Dyes used homemade time taken from the plants: pace / mengkudu, indigo, Soga and the fabric woven wood itself. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Warna batik Tegal pertama kali ialah sogan dan babaran abu-abu setelah dikenal nila pabrik, dan kemudian meningkat menjadi warna merah-biru." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Color Tegal batik was first babaran Sogan and gray after a known indigo plant, and then increases to the red-blue color. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Pasaran batik Tegal waktu itu sudah keluar daerah antara lain Jawa Barat dibawa sendiri oleh pengusaha-pengusaha secara jalan kaki dan mereka inilah menurut sejarah yang mengembangkan batik di Tasik dan Ciamis di samping pendatang-pendatang lainnya dari kota-kota batik Jawa Tengah." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Tegal batik market it was already out of the area including West Java, was taken by the entrepreneurs are on foot and these are developed according to the history of batik in Tasik and Ciamis alongside other immigrant-settlers from the cities of Central Javanese batik.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="background-color: #ffffff;" title="Pada awal abad ke-20 sudah dikenal mori import dan obat-obat import baru dikenal sesudah perang dunia kesatu." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">In the early 20th century was known mori import and import drugs known as post-war new world of unity. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Pengusaha-pengusaha batik di Tegal kebanyakan lemah dalam permodalan dan bahan baku didapat dari Pekalongan dan dengan kredit dan batiknya dijual pada Cina yang memberikan kredit bahan baku tersebut." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Batik entrepreneurs in Tegal mostly weak in capital and raw materials derived from the Pekalongan and with credit and batik are sold in China provides loans to these raw materials. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Waktu krisis ekonomi pembatik-pembatik Tegal ikut lesu dan baru giat kembali sekitar tahun 1934 sampai permulaan perang dunia kedua." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">When the economic crisis of Tegal batik batik-wan and join a new active around the year 1934 back to the beginning of the second world war. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Waktu Jepang masuk kegiatan pembatikan mati lagi." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">When the Japanese went dead again batik activities.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span title="Demikian pila sejarah pembatikan di Purworejo bersamaan adanya dengan pembatikan di Kebumen yaitu berasal dari Yogyakarta sekitar abad ke-19." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Pila thus the history of batik in the same Purworejo in Kebumen with batik from Yogyakarta is around the 19th century. </span><span title="Pekembangan kerajinan batik di Purworejo dibandingkan dengan di Kebumen lebih cepat di Kebumen." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Batik Pekembangan in Purworejo compared with the faster Kebumen in Kebumen. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Produksinya sama pula dengan Yogya dan daerah Banyumas lainnya." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Production as well as Yogyakarta and other Banyumas areas.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="background-color: #ffffff;" title="Sedangkan di daerah Bayat, Kecamatan Tembayat Kebumen, yang letaknya lebih kurang 21 Km sebelah Timur kota Klaten." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">While in the Bayat area, Tembayat Kebumen District, which is located approximately 21 Km east of the town of Klaten. </span><span title="Daerah Bayat ini adalah desa yang terletak di kaki gunung tetapi tanahnya gersang dan minus." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Bayat area is the village located at the foot of the mountain but the land barren and minuses. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Daerah ini termasuk lingkungan Karesidenan Surakarta dan Kabupaten Klaten dan riwayat pembatikan disini sudah pasti erat hubungannya dengan sejarah kerajaan kraton Surakarta masa dahulu." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">These areas include the environment and the residency of Surakarta and Klaten Regency batik history here is certainly closely related to the history of the Surakarta royal palace first. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Desa Bayat ini sekarang ada pertilasan yang dapat dikunjungi oleh penduduknya dalam waktu-waktu tertentu yaitu “makam Sunan Bayat” di atas gunung Jabarkat." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Bayat Village is now a pertilasan that can be visited by people in certain times of the &#8220;tomb of Sunan Bayat&#8221; on the mountain Jabarkat. </span><span title="Jadi pembatikan didesa Bayat ini sudah ada sejak zaman kerjaan dahulu." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">So Bayat didesa batik has been around since the time of first job. </span><span title="Pengusaha-pengusaha batik di Bayat tadinya kebanyakan dari kerajinan dan buruh batik di Solo." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Batik entrepreneurs in Bayat had most of the handicrafts and batik workers in Solo.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="background-color: #ffffff;" title="Sementara pembatikan di Kebumen dikenal sekitar awal abad ke-19 yang dibawa oleh pendatang-pendatang dari Yogya dalam rangka dakwah Islam antara lain yang dikenal ialah: Penghulu Nusjaf." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">While batik in Kebumen is known about the early 19th century, brought by immigrants, immigrants from Yogyakarta in the context of the message of Islam, among others known are: Penghulu Nusjaf. </span><span title="Beliau inilah yang mengembangkan batik di Kebumen dan tempat pertama menetap ialah sebelah Timur Kali Lukolo sekarang dan juga ada peninggalan masjid atas usaha beliau." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">He is a developing batik in Kebumen and first place is settled east Lukolo time now and there are also relics of the mosque for his efforts. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Proses batik pertama di Kebumen dinamakan tengabang atau blambangan dan selanjutnya proses terakhir dikerjakan di Banyumas/Solo." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Batik process is called first in Kebumen tengabang or Blambangan and then the last process is done in Banyumas / Solo. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Sekitar awal abad ke-20 untuk membuat polanya dipergunakan kunir yang capnya terbuat dari kayu." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Around the early 20th century to make the pattern used turmeric to taste made from wood. </span><span title="Motif-motif Kebumen ialah: pohon-pohon, burung-burungan." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Kebumen motifs are: the trees, birds-burungan. </span><span title="Bahan-bahan lainnya yang dipergunakan ialah pohon pace, kemudu dan nila tom." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Other materials used are tree pace, and indigo kemudu tom.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="background-color: #ffffff;" title="Pemakaian obat-obat import di Kebumen dikenal sekitar tahun 1920 yang diperkenalkan oleh pegawai Bank Rakyat Indonesia yang akhimya meninggalkan bahan-bahan bikinan sendiri, karena menghemat waktu." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Use of imported drugs in Kebumen known around 1920 employees, introduced by Bank Rakyat Indonesia, which finally left the materials homemade, as it saves time. </span><span title="Pemakaian cap dari tembaga dikenal sekitar tahun 1930 yang dibawa oleh Purnomo dari Yogyakarta." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">The use of copper seal is known around the year 1930 brought by Purnomo of Yogyakarta. </span><span title="Daerah pembatikan di Kebumen ialah desa: Watugarut, Tanurekso yang banyak dan ada beberapa desa lainnya." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Regional batik is a village in Kebumen: Watugarut, Tanurekso many and there are several other villages.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="background-color: #ffffff;" title="Dilihat dengan peninggalan-peninggalan yang ada sekarang dan cerita-cerita yang turun-temurun, maka diperkirakan di daerah Tasikmalaya batik dikenal sejak zaman “Tarumanagara” dimana peninggalan yang ada sekarang ialah banyaknya pohon tarum di sana yang berguna untuk pembuatan batik waktu itu." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Visits with relics of the present and the stories from generation to generation, it is estimated in the region Batik Tasikmalaya is known since the time of &#8220;Tarumanagara&#8221; which remains the existing number of trees Tarum is there that is useful for making batik at the time. </span><span title="Desa peninggalan yang sekarang masih ada pembatikan ialah Wurug terkenal dengan batik kerajinannya, Sukapura, Mangunraja, Maronjaya dan Tasikmalaya kota." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Heritage village which still exists today Wurug batik is famous for its batik craft, Sukapura, Mangunraja, Maronjaya and Tasikmalaya city.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span title="Dahulu pusat dari pemerintahan dan keramaian yang terkenal ialah desa Sukapura, Indihiang yang terletak di pinggir kota Tasikmalaya sekarang." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Formerly the center of government and the crowd is the village famous Sukapura, Indihiang located on the outskirts of Tasikmalaya now. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Kira-kira akhir abad ke-17 dan awal abad ke-18 akibat dari peperangan antara kerajaan di Jawa Tengah, maka banyak dari penduduk daerah: Tegal, Pekalongan, Banyumas dan Kudus yang merantau ke daerah Barat dan menetap di Ciamis dan Tasikmalaya." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Around the end of the 17th century and early 18th century because of wars between the kingdoms in Central Java, many of the county: Tegal, Pekalongan, Kudus Banyumas and migrated to the west and settled in Ciamis and Tasikmalaya. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Sebagian besar dari mereka ini adalah pengusaha-pengusaha batik daerahnya dan menuju ke arah Barat sambil berdagang batik." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Most of them are batik entrepreneurs area and headed toward the West with trade batik. </span><span title="Dengan datangnya penduduk baru ini, dikenallah pembuatan baik memakai soga yang asalnya dari Jawa Tengah." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">With the arrival of these new residents, making good use dikenallah Soga, who came from Central Java. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Produksi batik Tasikmalaya sekarang adalah campuran dari batik-batik asal Pekalongan, Tegal, Banyumas, Kudus yang beraneka pola dan warna." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Tasikmalaya batik production now is a mixture of batik-batik from Pekalongan, Tegal, Banyumas, Ghost of various patterns and colors.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="background-color: #ffffff;" title="Pembatikan dikenal di Ciamis sekitar abad ke-19 setelah selesainya peperangan Diponegoro, dimana pengikut-pengikut Diponegoro banyak yang meninggalkan Yogyakarta, menuju ke selatan." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Batik was known in Ciamis around the 19th century, after the completion of Diponegoro war, where followers of Diponegoro much left Yogyakarta, heading south. </span><span title="Sebagian ada yang menetap didaerah Banyumas dan sebagian ada yang meneruskan perjalanan ke selatan dan menetap di Ciamis dan Tasikmalaya sekarang." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Some areas there is settled Banyumas and there is a continuing part of the journey to the south and settled in Ciamis and Tasikmalaya now. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Mereka ini merantau dengan keluargany a dan ditempat baru menetap menjadi penduduk dan melanjutkan tata cara hidup dan pekerjaannya." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">They are wandering in and keluargany a new place and settled into the population continue to live and procedures work. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Sebagian dari mereka ada yang ahli dalam pembatikan sebagai pekerjaan kerajinan rumah tangga bagi kaum wanita." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Some of them are experts in crafting batik as domestic work for women. </span><span title="Lama kelamaan pekerjaan ini bisa berkembang pada penduduk sekitarnya akibat adanya pergaulan sehari-hari atau hubungan keluarga." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Eventually this work can be developed on the surrounding residents due to everyday social intercourse or family relationships. </span><span title="Bahan-bahan yang dipakai untuk kainnya hasil tenunan sendiri dan bahan catnya dibuat dari pohon seperti: mengkudu, pohon tom, dan sebagainya." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">The materials used for weaving the fabric of the paint itself and the material is made from trees such as: mengkudu, tom tree, and so on.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span title="Motif batik hasil Ciamis adalah campuran dari batik Jawa Tengah dan pengaruh daerah sendiri terutama motif dan warna Garutan." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Batik motif Ciamis result is a mixture of the Central Javanese batik and their own regional influence, especially Garutan motifs and colors. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Sampai awal-awal abad ke-20 pembatikan di Ciamis berkembang sedikit demi sedikit, dari kebutuhan sendiri menjadi produksi pasaran." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Until the early 20th century batik in Ciamis developed little by little, from their own needs into market production. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Sedang di daerah Cirebon batik ada kaintannya dengan kerajaan yang ada di aerah ini, yaitu Kanoman, Kasepuahn dan Keprabonan." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Was in the area of Cirebon batik there with royal kaintannya in this aerah, namely Kanoman, Kasepuahn and Keprabonan. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Sumber utama batik Cirebon, kasusnya sama seperti yang di Yogyakarta dan Solo." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">The main source of Cirebon batik, the case is the same as in Yogyakarta and Solo. </span><span title="Batik muncul lingkungan kraton, dan dibawa keluar oleh abdi dalem yang bertempat tinggal di luar kraton." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Batik emerged court environment, and carried out by the courtiers who reside outside the palace. </span><span title="Raja-raja jaman dulu senang dengan lukisan-lukisan dan sebelum dikenal benang katun, lukisan itu ditempatkan pada daun lontar." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">The kings of old times delighted with the paintings and before the cotton is known, the painting was placed on palm leaves. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Hal itu terjadi sekitar abad ke-13." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">It happened around the 13th century. </span><span title="Ini ada kaitannya dengan corak-corak batik di atas tenunan." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">This has to do with batik motifs on the fabrics. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Ciri khas batik Cirebonan sebagaian besar bermotifkan gambar yang lambang hutan dan margasatwa." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Characteristic of the bulk of batik motive cirebonan images of forests and wildlife symbol. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Sedangkan adanya motif laut karena dipengaruhioleh alam pemikiran Cina, dimana kesultanan Cirebon dahulu pernah menyunting putri Cina." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">While the sea motif for natural dipengaruhioleh Chinese thinking, which the sultanate of Cirebon editing once the Chinese princess. </span><span title="Sementra batik Cirebonan yang bergambar garuda karena dipengaruhi oleh motif batik Yogya dan Solo." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Cirebonan Sementra featuring batik because it is influenced by the eagle motif Yogyakarta and Solo batik.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span title="Pembatikan di Jakarta" onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Batik in Jakarta</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span title="Pembatikan di Jakarta dikenal dan berkembangnya bersamaan dengan daerah-daerah pembatikan lainnya yaitu kira-kira akhir abad ke-19." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Batik in Jakarta known and growing along with batik areas other that is roughly the late 19th century. </span><span title="Pembatikan ini dibawa oleh pendatang-pendatang dari Jawa Tengah dan mereka bertempat tinggal kebanyakan di daerah-daerah pembatikan." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Batik was brought by immigrants, immigrants from Central Java and they live mostly in areas batik. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Daerah pembatikan yang dikenal di Jakarta tersebar dekat Tanah Abang yaitu: Karet, Bendungan Hilir dan Udik, Kebayoran Lama, dan daerah Mampang Prapatan serta Tebet." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Area known batik in Jakarta scattered near Tanah Abang, namely: Rubber, Lower Dam and Udik, Kebayoran Lama, and the Mampang Prapatan and Tebet.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span title="Jakarta sejak zaman sebelum perang dunia kesatu telah menjadi pusat perdagangan antar daerah Indonesia dengan pelabuhannya Pasar Ikan sekarang." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Jakarta since the pre-war union world has become inter-regional trade center with its port Indonesia Fish Market now. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Setelah perang dunia kesatu selesai, dimana proses pembatikan cap mulai dikenal, produksi batik meningkat dan pedagang-pedagang batik mencari daerah pemasaran baru." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">After the war finished the first part, where the batik process has become a popular brand, increased production of batik and batik traders looking for new marketing areas. </span><span title="Daerah pasaran untuk tekstil dan batik di Jakarta yang terkenal ialah: Tanah Abang, Jatinegara dan Jakarta Kota, yang terbesar ialah Pasar Tanah Abang sejak dari dahulu sampai sekarang." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Regional markets for textile and batik in Jakarta, which is famous for: Tanah Abang, Jatinegara and Jakarta City, which is the largest since the Tanah Abang market from past to present. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Batik-batik produksi daerah Solo, Yogya, Banyumas, Ponorogo, Tulungagung, Pekalongan, Tasikmalaya, Ciamis dan Cirebon serta lain-lain daerah, bertemu di Pasar Tanah Abang dan dari sini baru dikirim kedaerah-daerah diluar Jawa." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Batik-batik production district of Solo, Yogya, Banyumas, Ponorogo, Tulungagung, Pekalongan, Tasikmalaya, Ciamis and Cirebon and other areas, meet at the Tanah Abang market, and from here the new post kedaerah outside areas of Java. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Pedagang-pedagang batik yang banyak ialah bangsa Cina dan Arab, bangsa Indonesia sedikit dan kecil." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Batik merchants is that many Chinese and Arab nations, the Indonesian people and a small bit.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span title="Oleh karena pusat pemasaran batik sebagian besar di Jakarta khususnya Tanah Abang, dan juga bahan-bahan baku batik diperdagangkan ditempat yang sama, maka timbul pemikiran dari pedagang-pedagang batik itu untuk membuka perusahaan batik di Jakarta dan tempatnya ialah berdekatan dengan Tanah Abang." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Therefore the marketing center of batik most especially in Jakarta Tanah Abang, as well as raw materials traded batik same place, so the thought of batik traders to open a batik company in Jakarta and the place is adjacent to the Tanah Abang. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Pengusaha-pengusaha batik yang muncul sesudah perang dunia kesatu, terdiri dari bangsa cina, dan buruh-buruh batiknya didatangkan dari daerah-daerah pembatikan Pekalongan, Yogya, Solo dan lain-lain." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Batik entrepreneurs who emerged after the world war unity, composed of Chinese nation, and batik workers brought in from areas of Pekalongan batik, Yogya, Solo and others. </span><span title="Selain dari buruh batik luar Jakarta itu, maka diambil pula tenaga-tenaga setempat di sekitar daerah pembatikan sebagai pembantunya." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Apart from outside Jakarta batik workers, then taken all the local forces in the vicinity of batik as a maid. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Berikutnya, melihat perkembangan pembatikan ini membawa lapangan kerja baru, maka penduduk asli daerah tersebut juga membuka perusahaan-perusahaan batik." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Next, look at this batik development brings new jobs, the local natives are also open batik companies. </span><span title="Motif dan proses batik Jakarta sesuai dengan asal buruhnya didatangkan yaitu: Pekalongan, Yogya, Solo dan Banyumas." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Motifs and batik process Jakarta in accordance with the origin of imported labor: Pekalongan, Yogya, Solo and Banyumas.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span title="Bahan-bahan baku batik yang dipergunakan ialah hasil tenunan sendiri dan obat-obatnya hasil ramuan sendiri dari bahan-bahan kayu mengkudu, pace, kunyit dan sebagainya." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Raw materials used is batik woven itself and medicine for her own concoction results from wood materials mengkudu, pace, turmeric and so on. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Batik Jakarta sebelum perang terkenal dengan batik kasarnya warnanya sama dengan batik Banyumas." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Jakarta Batik famous prewar crude batik with batik color Banyumas. </span><span title="Sebelum perang dunia kesatu bahan-bahan baku cambric sudah dikenal dan pemasaran hasil produksinya di Pasar Tanah Abang dan daerah sekitar Jakarta." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Before the war the world unity raw materials are well known cambric and marketing their products in the Tanah Abang market and the area around Jakarta.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span title="Pembatikan di Luar Jawa" onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Outside Java batik</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="background-color: #ffffff;" title="Dari Jakarta, yang menjadi tujuan pedagang-pedagang di luar Jawa, maka batik kemudian berkembang di seluruh penjuru kota-kota besar di Indonesia yang ada di luar Jawa, daerah Sumatera Barat misalnya, khususnya daerah Padang, adalah daerah yang jauh dari pusat pembatikan dikota-" onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">From Jakarta, the objectives of merchants outside of Java, batik is then developed around the major cities in Indonesia outside Java, West Sumatra, for example, especially the Padang area, is a remote area of central-city batik </span><span style="background-color: #ffffff;" title="kota Jawa, tetapi pembatikan bisa berkembang didaerah ini." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Javanese town, but the batik can develop this area.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="background-color: #ffffff;" title="Sumatera Barat termasuk daerah konsumen batik sejak zaman sebelum perang dunia kesatu, terutama batik-batik produksi Pekalongan (saaingnya) dan Solo serta Yogya." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">West Sumatra including consumer area batik since the days before the union world war, especially the production of batik-batik Pekalongan (saaingnya) and Solo and Yogya. </span><span title="Di Sumatera Barat yang berkembang terlebih dahulu adalah industri tenun tangan yang terkenal “tenun Silungkang” dan “tenun plekat”." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">In West Sumatra who first developed the industry&#8217;s famous hand-woven &#8220;weaving Silungkang&#8221; and &#8220;weaving plekat&#8221;. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Pembatikan mulai berkembang di Padang setelah pendudukan Jepang, dimana sejak putusnya hubungan antara Sumatera dengan Jawa waktu pendudukan Jepang, maka persediaan-persediaan batik yang ada pada pedagang-pedagang batik sudah habis dan konsumen perlu batik untuk pakaian sehari-hari mereka." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Batik began to grow in the Valley after the Japanese occupation, which since the dissolution of the relationship between Sumatra with Java when the Japanese occupation, the batik supplies available in batik merchants and consumers is up to batik clothing for their daily. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Ditambah lagi setelah kemerdekaan Indonesia, dimana hubungan antara kedua pulau bertambah sukar, akibat blokade-blokade Belanda, maka pedagang-pedagang batik yang biasa hubungan dengan pulau Jawa mencari jalan untuk membuat batik sendiri." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Plus after the independence of Indonesia, where the relationship between the two islands grew difficult, due to blockade-Dutch blockade, the batik traders usual relationship with the island of Java to find a way to create their own batik.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="background-color: #ffffff;" title="Dengan hasil karya sendiri dan penelitian yang seksama, dari batik-batik yang dibuat di Jawa, maka ditirulah pembuatan pola-polanya dan ditrapkan pada kayu sebagai alat cap." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">With his own work and careful research, from batik-batik is made in Java, so it ditirulah patterns and ditrapkan on wood as a cap. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Obat-obat batik yang dipakai juga hasil buatan sendiri yaitu dari tumbuh-tumbuhan seperti mengkudu, kunyit, gambir, damar dan sebagainya." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Batik drugs also used homemade results are from plants such as mengkudu, turmeric, gambier, resin and so on. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Bahan kain putihnya diambilkan dari kain putih bekas dan hasil tenun tangan." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">White cloth and white cloth taken from the former and the results of hand-woven. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Perusahaan batik pertama muncul yaitu daerah Sampan Kabupaten Padang Pariaman tahun 1946 antara lain: Bagindo Idris, Sidi Ali, Sidi Zakaria, Sutan Salim, Sutan Sjamsudin dan di Payakumbuh tahun 1948 Sdr." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Batik company first appeared that the boat Padang Pariaman in 1946 include: Bagindo Idris, Sidi Ali, Sidi Zakaria, Sutan Salim, Sutan Sjamsudin and in 1948 Mr. Payakumbuh year. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Waslim (asal Pekalongan) dan Sutan Razab." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Waslim (origin Pekalongan) and Sutan Razab. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Setelah daerah Padang serta kota-kota lainnya menjadi daerah pendudukan tahun 1949, banyak pedagang-pedagang batik membuka perusahaan-perusahaan/bengkel batik dengan bahannya didapat dari Singapore melalui pelabuhan Padang dan Pakanbaru." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">After the Padang and other cities into areas occupied in 1949, many traders open perusahaan-perusahaan/bengkel batik batik material obtained from Singapore via the port of Padang and Pakanbaru. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Tetapi pedagang-pedagang batik ini setelah ada hubungan terbuka dengan pulau Jawa, kembali berdagang dan perusahaanny a mati." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">But the merchants of this batik after an open relationship with the island of Java, back trade and perusahaanny a die.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="background-color: #ffffff;" title="Warna dari batik Padang kebanyakan hitam, kuning dan merah ungu serta polanya Banyumasan, Indramayu-an, Solo dan Yogya." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Color of batik Padang mostly black, yellow and red and purple pattern Banyumasan, Indramayu&#8217;s, Solo and Yogyakarta. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Sekarang batik produksi Padang lebih maju lagi tetapi tetap masih jauh dari produksi-produksi di pulau Jawa." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Now, batik production of more advanced Padang again but still far from the productions on the island of Java. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Alat untuk cap sekarang telah dibuat dari tembaga dan produksinya kebanyakan sarung." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Tools to seal now has been made of copper and most sarong production.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span title="Sumber : [Dikutip dari buku 20 Tahun GKBI]" onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Source: [Adapted from the book 20 Years GKBI]</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dodolbatik.com/2010/02/02/origin-and-history-of-batik.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ciri Khas Batik Daerah Solo, Jogja, Pekalongan, Cirebon, dan Banyumas</title>
		<link>http://dodolbatik.com/2009/12/19/ciri-khas-batik-daerah-solo-jogja-pekalongan-cirebon-dan-banyuma.php</link>
		<comments>http://dodolbatik.com/2009/12/19/ciri-khas-batik-daerah-solo-jogja-pekalongan-cirebon-dan-banyuma.php#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Dec 2009 16:27:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motif Batik]]></category>
		<category><![CDATA[Cirebon]]></category>
		<category><![CDATA[Ciri Khas Batik Daerah Solo]]></category>
		<category><![CDATA[dan Banyumas]]></category>
		<category><![CDATA[Jogja]]></category>
		<category><![CDATA[Pekalongan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dodolbatik.com/?p=99</guid>
		<description><![CDATA[Berikut kami tampilkan berbagai macam Corak ciri khas batik daerah. Termasuk Solo, Jogja, Pekalongan, Cirebon, dan Banyumas yang dapat anda lihat khasnya. Masing-masing daerah mempunyai ciri khas batik yang berbeda-beda sesuai dengan daerahnya masing-masing. Ciri-ciri khas batik daerah itu menunjukkan keberagaman batik di nusantara ini.


Ciri Khas Batik Daerah seperti Solo, Jogja, Pekalongan, Cirebon, dan Banyumas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Berikut kami tampilkan berbagai macam <a title="Dodol Batik" href="http://dodolbatik.com" target="_blank"><strong>Corak</strong></a> <a title="Dodol Batik" href="http://dodolbatik.com" target="_blank"><strong>ciri khas</strong></a> <a title="Dodol Batik" href="http://dodolbatik.com" target="_blank"><strong>batik</strong></a> daerah. Termasuk <strong>Solo</strong>, <strong>Jogja, Pekalongan, Cirebon, dan Banyumas</strong> yang dapat anda lihat <a title="Dodol Batik" href="http://dodolbatik.com" target="_blank"><strong>khas</strong></a>nya. Masing-masing daerah mempunyai <a title="Dodol Batik" href="http://dodolbatik.com" target="_blank"><strong>ciri khas batik</strong></a> yang berbeda-beda sesuai dengan daerahnya masing-masing. Ciri-ciri <a title="Dodol Batik" href="http://dodolbatik.com" target="_blank"><strong>khas batik</strong></a> daerah itu menunjukkan keberagaman batik di nusantara ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-99"></span></p>
<p style="text-align: justify;">
<div id="attachment_107" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://dodolbatik.com/wp-content/uploads/2009/12/motifbatiksolo.jpg" rel="shadowbox[post-99];player=img;"><img class="size-medium wp-image-107" title="motifbatiksolo" src="http://dodolbatik.com/wp-content/plugins/autothumb/image.php?src=/wp-content/uploads/2009/12/motifbatiksolo-300x300.jpg&amp;aoe=1&amp;q=100&amp;w=300&amp;h=300&amp;hash=74d44773223a67abdc604f404f83f5b0" alt="motifbatiksolo" /></a><p class="wp-caption-text">motifbatiksolo</p></div>
<p style="text-align: justify;"><a title="Dodol Batik" href="http://dodolbatik.com" target="_blank"><strong>Ciri Khas Batik</strong></a> Daerah seperti <strong>Solo, Jogja, Pekalongan, Cirebon, dan Banyumas</strong> merupakan kekayaan bangsa kita yang tak ternilai harganya. <a title="Dodol Batik" href="http://dodolbatik.com" target="_blank"><strong>Corak batik</strong></a> ini patut kita banggakan sebagai aset bangsa yang tak kan pernah hilang. <a title="Dodol Batik" href="http://dodolbatik.com" target="_blank"><strong>Ciri Khas Batik</strong></a> Daerah <strong>Solo, Jogja, Pekalongan, Cirebon, dan Banyumas</strong> akan menjadi <em>Trend Senter</em> di daerahnya masing-masing.</p>
<p style="text-align: justify;">
<div id="attachment_105" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://dodolbatik.com/wp-content/uploads/2009/12/CorakJogja-Motif-Gegot.jpg" rel="shadowbox[post-99];player=img;"><img class="size-medium wp-image-105" title="CorakJogja-Motif-Gegot" src="http://dodolbatik.com/wp-content/plugins/autothumb/image.php?src=/wp-content/uploads/2009/12/CorakJogja-Motif-Gegot-300x300.jpg&amp;aoe=1&amp;q=100&amp;w=300&amp;h=300&amp;hash=c4bb93f8498371d630d621e04f5b1d4c" alt="Batik Khas Jogja" /></a><p class="wp-caption-text">Batik Khas Jogja</p></div>
<div id="attachment_104" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://dodolbatik.com/wp-content/uploads/2009/12/corak-Jogja-Motif-Cakar.jpg" rel="shadowbox[post-99];player=img;"><img class="size-medium wp-image-104" title="corak-Jogja-Motif-Cakar" src="http://dodolbatik.com/wp-content/plugins/autothumb/image.php?src=/wp-content/uploads/2009/12/corak-Jogja-Motif-Cakar-300x300.jpg&amp;aoe=1&amp;q=100&amp;w=300&amp;h=300&amp;hash=ee95f0d7eca3f9f2ea96c6d5f620a9d3" alt="Batik Khas Jogja" /></a><p class="wp-caption-text">Batik Khas Jogja</p></div>
<p style="text-align: justify;"><a title="Dodol Batik" href="http://dodolbatik.com" target="_blank"><strong>Ciri Khas Batik</strong></a> <strong>Solo</strong> akan berbeda dengan <a title="Dodol Batik" href="http://dodolbatik.com" target="_blank"><strong>Ciri Khas Batik</strong></a> <strong>Jogja</strong>. Mereka mempunyai <a title="Dodol Batik" href="http://dodolbatik.com" target="_blank"><strong>Ciri Khas</strong></a> Masing-masing yang tidak sama. <a title="Dodol Batik" href="http://dodolbatik.com" target="_blank"><strong>Ciri Khas Batik </strong></a><strong>Pekalongan</strong> dan <a title="Dodol Batik" href="http://dodolbatik.com" target="_blank"><strong>Ciri Khas Batik</strong></a> <strong>Cirebon</strong> juga mempunyai perbedaan <a title="Dodol Batik" href="http://dodolbatik.com" target="_blank"><strong>Corak</strong></a> antara keduanya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<div id="attachment_101" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://dodolbatik.com/wp-content/uploads/2009/12/Corak-batik-pekalongan.jpg" rel="shadowbox[post-99];player=img;"><img class="size-medium wp-image-101" title="Corak-batik-pekalongan" src="http://dodolbatik.com/wp-content/plugins/autothumb/image.php?src=/wp-content/uploads/2009/12/Corak-batik-pekalongan-300x225.jpg&amp;aoe=1&amp;q=100&amp;w=300&amp;h=225&amp;hash=d8a76e074e11aa963394561047bdf5b3" alt="Batik Khas Pekalongan" /></a><p class="wp-caption-text">Batik Khas Pekalongan</p></div>
<div id="attachment_103" class="wp-caption aligncenter" style="width: 161px"><a href="http://dodolbatik.com/wp-content/uploads/2009/12/corakcirebon-batik.jpg" rel="shadowbox[post-99];player=img;"><img class="size-full wp-image-103" title="corakcirebon-batik" src="http://dodolbatik.com/wp-content/plugins/autothumb/image.php?src=/wp-content/uploads/2009/12/corakcirebon-batik.jpg&amp;aoe=1&amp;q=100&amp;w=151&amp;h=151&amp;hash=f2c3aa17ba729941fcd7a253d24a6cb3" alt="Batik Khas Cirebon" /></a><p class="wp-caption-text">Batik Khas Cirebon</p></div>
<div id="attachment_100" class="wp-caption aligncenter" style="width: 295px"><a href="http://dodolbatik.com/wp-content/uploads/2009/12/corakbanyumas.jpg" rel="shadowbox[post-99];player=img;"><img class="size-full wp-image-100" title="corakbanyumas" src="http://dodolbatik.com/wp-content/plugins/autothumb/image.php?src=/wp-content/uploads/2009/12/corakbanyumas.jpg&amp;aoe=1&amp;q=100&amp;w=285&amp;h=213&amp;hash=a17b70dd2fb4ea9a7652cdee8d6b36f8" alt="Batik Khas Banyumas" /></a><p class="wp-caption-text">Batik Khas Banyumas</p></div>
<p style="text-align: justify;">Begitu pula dengan<a title="Dodol Batik" href="http://dodolbatik.com" target="_blank"><strong> Ciri Khas batik</strong></a> <strong>Banyumas</strong> yang dikenal oleh masyarakat <a title="Dodol Batik" href="http://dodolbatik.com" target="_blank"><strong>Khas</strong></a> Banyumas yang berada di Jawa Tengah Bagian Barat. Tetapi semua <a title="Dodol Batik" href="http://dodolbatik.com" target="_blank"><strong>corak</strong></a> dan <a title="Dodol Batik" href="http://dodolbatik.com" target="_blank"><strong>Ciri Khas Batik</strong></a> itu akan menjadi kekayaan bagi bangsa kita.</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dodolbatik.com/2009/12/19/ciri-khas-batik-daerah-solo-jogja-pekalongan-cirebon-dan-banyuma.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Corak Batik Solo</title>
		<link>http://dodolbatik.com/2009/12/19/corak-batik-solo.php</link>
		<comments>http://dodolbatik.com/2009/12/19/corak-batik-solo.php#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Dec 2009 15:51:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Batik]]></category>
		<category><![CDATA[Batik Solo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dodolbatik.com/?p=93</guid>
		<description><![CDATA[Ragam corak dan warna Batik dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asing. Awalnya, batik memiliki ragam corak dan warna yang terbatas, dan beberapa corak hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu. Namun batik pesisir menyerap berbagai pengaruh luar, seperti para pedagang asing dan juga pada akhirnya, para penjajah. Warna-warna cerah seperti merah dipopulerkan oleh Tionghoa, yang juga mempopulerkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Ragam corak dan warna <strong><a title="Dodol Batik" href="http://dodolbatik.com" target="_blank">Batik</a></strong> dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asing. Awalnya, <a title="Dodol Batik" href="http://dodolbatik.com" target="_blank"><strong>batik</strong></a> memiliki ragam corak dan warna yang terbatas, dan beberapa corak hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu. Namun <a title="Dodol Batik" href="http://dodolbatik.com" target="_blank"><strong>batik</strong></a> pesisir menyerap berbagai pengaruh luar, seperti para pedagang asing dan juga pada akhirnya, para penjajah. Warna-warna cerah seperti merah dipopulerkan oleh Tionghoa, yang juga mempopulerkan <a title="Dodol Batik" href="http://dodolbatik.com" target="_blank"><strong>corak</strong></a> phoenix.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-93"></span></p>
<p style="text-align: justify;">
<div id="attachment_95" class="wp-caption aligncenter" style="width: 160px"><a href="http://dodolbatik.com/wp-content/uploads/2009/12/batik-solo2.jpg" rel="shadowbox[post-93];player=img;"><img class="size-full wp-image-95" title="batik-solo2" src="http://dodolbatik.com/wp-content/plugins/autothumb/image.php?src=/wp-content/uploads/2009/12/batik-solo2.jpg&amp;aoe=1&amp;q=100&amp;w=150&amp;h=113&amp;hash=c589cc2bd30232c8d42426e9dc57b2a8" alt="Corak Batik Khas Solo" /></a><p class="wp-caption-text">Corak Batik Khas Solo</p></div>
<div id="attachment_96" class="wp-caption aligncenter" style="width: 160px"><a href="http://dodolbatik.com/wp-content/uploads/2009/12/batik-solo3.jpg" rel="shadowbox[post-93];player=img;"><img class="size-full wp-image-96" title="batik-solo3" src="http://dodolbatik.com/wp-content/plugins/autothumb/image.php?src=/wp-content/uploads/2009/12/batik-solo3.jpg&amp;aoe=1&amp;q=100&amp;w=150&amp;h=113&amp;hash=3b485a6b0aa85a00bbcfa506d0a91fcf" alt="Corak Batik Khas Solo" /></a><p class="wp-caption-text">Corak Batik Khas Solo</p></div>
<p style="text-align: justify;">Bangsa penjajah Eropa juga mengambil minat kepada <a title="Dodol Batik" href="http://dodolbatik.com" target="_blank"><strong>batik</strong></a>, dan hasilnya adalah <a title="Dodol Batik" href="http://dodolbatik.com" target="_blank"><strong>corak</strong></a> bebungaan yang sebelumnya tidak dikenal (seperti bunga tulip) dan juga benda-benda yang dibawa oleh penjajah (gedung atau kereta kuda), termasuk juga warna-warna kesukaan mereka seperti warna biru. <a title="Dodol Batik" href="http://dodolbatik.com" target="_blank"><strong>Batik tradisonal</strong></a> tetap mempertahankan <a title="Dodol Batik" href="http://dodolbatik.com" target="_blank"><strong>corak</strong></a>nya, dan masih dipakai dalam upacara-upacara adat, karena biasanya masing-masing <a title="Dodol Batik" href="http://dodolbatik.com" target="_blank"><strong>corak </strong></a>memiliki perlambangan masing-masing.</p>
<p style="text-align: justify;">
<div id="attachment_94" class="wp-caption aligncenter" style="width: 160px"><a href="http://dodolbatik.com/wp-content/uploads/2009/12/batik-solo1.jpg" rel="shadowbox[post-93];player=img;"><img class="size-full wp-image-94" title="batik-solo1" src="http://dodolbatik.com/wp-content/plugins/autothumb/image.php?src=/wp-content/uploads/2009/12/batik-solo1.jpg&amp;aoe=1&amp;q=100&amp;w=150&amp;h=113&amp;hash=44a8985b08d50f9c280b694631971812" alt="Corak Batik Khas Solo" /></a><p class="wp-caption-text">Corak Batik Khas Solo</p></div>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dodolbatik.com/2009/12/19/corak-batik-solo.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Batik Khas Banyumas</title>
		<link>http://dodolbatik.com/2009/11/29/batik-khas-banyumas.php</link>
		<comments>http://dodolbatik.com/2009/11/29/batik-khas-banyumas.php#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 14:07:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Batik]]></category>
		<category><![CDATA[Batik Banyumas]]></category>
		<category><![CDATA[batik]]></category>
		<category><![CDATA[Batik Banyumasan]]></category>
		<category><![CDATA[Khas banyumas]]></category>
		<category><![CDATA[Motif banyumas]]></category>
		<category><![CDATA[Motif Khas Banyumas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dodolbatik.com/?p=66</guid>
		<description><![CDATA[Kota Banyumas terletak di bagian Barat daya, termasuk di Provinsi Jawa tengah Dan taukah kamu kalo ternyata kota inipun menyimpan warisan budaya adiluhung dengan motif batik khas Banyumasnya? Beberapa bulan yang lalu  tim dodol batik juga sempat mengujungi Kota banyumas yang khas dengan batik banyumas dan bahasa ngapaknya.Terletak tidak jauh dari jalan utama tepatnya di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a title="Batik Banyumas" href="http://dodolbatik.com" target="_blank"><img class="alignleft size-full wp-image-72" title="batikbanyumasan1;dodolbatik" src="http://dodolbatik.com/wp-content/plugins/autothumb/image.php?src=/wp-content/uploads/2009/11/batikbanyumasan1dodolbatik.jpg&amp;aoe=1&amp;q=100&amp;w=100&amp;h=66&amp;hash=c1d21f98d6e1b032f44e0c4785727ae9" alt="batikbanyumasan1;dodolbatik" />Kota Banyumas</a> terletak di bagian Barat daya, termasuk di Provinsi Jawa tengah Dan taukah kamu kalo ternyata kota inipun menyimpan warisan budaya adiluhung dengan motif batik <a title="Motif banyumas" href="http://dodolbatik.com" target="_blank">khas Banyumasnya</a>? Beberapa bulan yang lalu  tim dodol batik juga sempat mengujungi Kota banyumas yang khas dengan batik banyumas dan bahasa ngapaknya.<span id="more-66"></span>Terletak tidak jauh dari jalan utama tepatnya di L. Mruyung No 46, Banyumas. Jawa Tengah, industri <a title="Batik Banyumasan" href="http://dodolbatik.com" target="_blank">batik</a> tersebut tampak dari luar berupa rumah jawa yang lumayan besar. Tapi bila masuk ke dalam ternyata, rumah tersebut mempunyai showroom batik-batik yang diproduksinya di bagian kiri, sementara ruang produksi di sebelah kanan. Sentra batik tersebut bernama Batik Hadi Prijanto. Pengunjung bisa langsung memilih batik-batik dengan dilayani si mba-mba yang berpakaian batik pula. Di sana tersedia batik dalam berbagai motif, baik kain yang masih lembaran, ataupun pakaian jadi dari bahan batik, tergantung selera dan kebutuhan. Bagi penggemar batik, kamu pasti akan bingung memilih batik-batiknya yang bervariasi. Batik sekarang memang telah berkembang dari pakaian tradisional yang dianggap kuno menjadi pakaian kasual yang bisa dipakai sehari-hari. Hal ini tentu saja tidak lepas dari motif batik yang tidak lagi harus ikut ”pakem”yang berat, dan warnanya yang lebih bervariasi. Ditambah lagi model pakaian dari batik yang sekarang ini sangat kreatif hingga muda mudipun dengan antusiasnya mengenakan <a title="Batik" href="http://dodolbatik.com" target="_blank">batik</a> untuk pergi ke kampus ataupun pergi jalan-jalan. Hal ini tentu saja menggairahkan indutri batik, dan membanggakan Indonesia sebagai negara yang khas dengan batik-nya.</p>
<p style="text-align: justify;"><a title="Batik Banyumas" href="http://dodolbatik.com" target="_blank">Batik Banyumas</a> identik dengan motif Jonasan, yaitu kelompok motif non geometrik yang didominasi dengan warna-warna dasar kecoklatan dan hitam. Warna coklat karena soga, sementara warna hitam karena wedel. Motif-motif yang berkembang sekarang ini antara lain: Sekarsurya, Sidoluhung, Lumbon (Lumbu), Jahe Puger, Cempaka Mulya, Kawung Jenggot, Madu Bronto, Satria Busana, Pring Sedapur. Tentu saja, para penggiat batik Banyumas juga menghasilkan motif-motif lain dengan melakukan kombinasi, terobosan motif baru sehingga tercipta satu karakter seni lukis yang indah.</p>
<p style="text-align: justify;">Bahan <a title="Batik banyumas" href="http://dodolbatik.com" target="_blank">batik Banyumas</a> antara lain: mori sen, dobi, sutera, paris. Batik Banyumas dibedakan dari cara pembuatannya ada dua yaitu batik cap dan batik tulis. Batik cap bisa diselesaikan dalam waktu 3 hari sementara batik tulis bisa 3 sampai 6 bulan, sehingga harganyapun jauh berbeda, batik cap berkisar puluhan ribu sampai ratusan ribu rupiah, sedangkan batik tulis dari ratusan ribu sampai jutaan rupiah.</p>
<p style="text-align: justify;">Ini <a title="Batik Tulis" href="http://dodolbatik.com" target="_blank">batik tulis</a>, bukan <a title="Batik Cetak" href="http://dodolbatik.com" target="_blank">batik cetak</a>! Jadi kain batik dibuat oleh pengrajin dengan tangan. Proses pembuatannya dapat kita lihat di ruang produksi yang terletak di sebelah kanan showroom. Pembatik tulis itu kebanyakan perempuan, tapi disitu juga memperkerjakan laki-laki untuk proses pencelupan dan penjemuran. Di dekat showroompun sengaja ada si mba yang tengah membatik untuk memperlihatkan pada pengunjung proses pewarnaannya yang dilakukan sedikit demi sedikit dengan kuas.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dodolbatik.com/2009/11/29/batik-khas-banyumas.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Batik Khas Jogjakarta</title>
		<link>http://dodolbatik.com/2009/11/29/batik-khas-jogjakarta.php</link>
		<comments>http://dodolbatik.com/2009/11/29/batik-khas-jogjakarta.php#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 13:00:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Batik]]></category>
		<category><![CDATA[Batik Jogjakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[batik]]></category>
		<category><![CDATA[Batik Jogja]]></category>
		<category><![CDATA[Batik Larangan]]></category>
		<category><![CDATA[Batik Tradisional]]></category>
		<category><![CDATA[Jogja]]></category>
		<category><![CDATA[Motif Jogja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dodolbatik.com/?p=56</guid>
		<description><![CDATA[Seni Batik Tradisional dikenal sejak beberapa abad yang lalu di tanah Jawa. Bila kita menelusuri perjalan perkembangan batik di tanah Jawa tidak akan lepas dari perkembangan seni batik di Jawa Tengah. Batik Jogja merupakan bagian dari perkembangan sejarah batik di Jawa Tengah yang telah mengalami perpaduan beberapa corak dari daerah lain.
Perjalanan “Batik Yogya” tidak bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a title="Batik Tradisional" href="http://dodolbatik.com" target="_blank">Seni Batik Tradisional</a> dikenal sejak beberapa abad yang lalu di tanah Jawa. Bila kita menelusuri perjalan perkembangan batik di tanah Jawa tidak akan lepas dari perkembangan seni batik di Jawa Tengah. Batik Jogja merupakan bagian dari perkembangan sejarah batik di Jawa Tengah yang telah mengalami perpaduan beberapa corak dari daerah lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Perjalanan <a title="Batik Yogya" href="http://dodolbatik.com" target="_blank">“Batik Yogya”</a> tidak bisa lepas dari perjanjian Giyanti 1755. Begitu Mataram terbelah dua, dan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat berdiri, busana Mataram diangkut dari Surakarta ke Ngayogyakarta maka Sri Susuhunan Pakubuwono II merancang busana baru dan pakaian adat Kraton Surakarta berbeda dengan busana Yogya.<span id="more-56"></span> Di desa Giyanti, perundingan itu berlangsung. Yang hasilnya antara lain , Daerah atau Wilayah Mataram dibagi dua, satu bagian dibawah kekuasaan Sri Paduka Susuhunan PB II di Surakarta Hadiningrat , sebagian lagi dibawah kekuasaan Kanjeng Pangeran Mangkubumi yang setelah dinobatkan sebagai raja bergelar Ngersa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Sultan Hamengku Buwana Senopati ing Ngalaga Ngabdul Rachman Sayidin Panatagama Kalifatullah ingkang jumeneng kaping I , yang kemudian kratonnya dinamakan Ngayogyakarta Hadiningrat.</p>
<p style="text-align: justify;">Semua pusaka dan benda-benda keraton juga dibagi dua. Busana Mataraman dibawa ke Yogyakarta , karena Kangjeng Pangeran Mangkubumi yang berkehendak melestarikannya. Oleh karena itu Surakarta dibawah kekuasaan Sri Paduka Susuhunan PB III merancang tata busana baru dan berhasil membuat Busana Adat Keraton Surakarta seperti yang kita lihat sampai sekarang ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Ciri <a title="Khas Batik" href="http://dodolbatik.com" target="_blank">khas batik</a> gaya Yogyakarta , ada dua macam latar atau warna dasar kain. Putih dan Hitam. Sementara warna batik bisa putih (warna kain mori) , biru tua kehitaman dan coklat soga. Sered atau pinggiran kain, putih, diusahakan tidak sampai pecah sehingga kemasukan soga, baik kain berlatar hitam maupun putih. Ragam hiasnya pertama Geometris : garis miring lerek atau lereng , garis silang atau ceplok dan kawung , serta anyaman dan limaran.Ragam hias yang bersifat kedua non-geometris semen , lung- lungan dan boketan.Ragam hias yang bersifat simbolis erat hubungannya dengan falsafah Hindu – Jawa ( Ny.Nian S Jumena ) antara lain :</p>
<p style="text-align: justify;">Sawat Melambangkan mahkota atau penguasa tinggi , Meru melambangkan gunung atau tanah ( bumi ) , Naga melambangkan air , Burung melambangkan angin atau dunia atas , Lidah api melambangkan nyala atau geni.<br />
Sejak pertama sudah ada kain larangan. Setiap Sultan yang bertahta berhak membuat peraturan baru atau larangan-larangan.</p>
<p>Terakhir, Sri Paduka Sultan HB VIII membuat peraturan baru ( revisi ) berjudul Pranatan dalem bab namanipun peangangge keprabon ing Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat, yang dimuat dalam Rijksblad van Djokjakarta No 19. th 1927, Yang dimaksud pangangge keprabon ( busana keprabon ) adalah : kuluk ( wangkidan ), dodot / kampuh serta bebet prajuritan, bebet nyamping ( kain panjang ) , celana sarta glisire ( celana cindhe , beludru , sutra , katun dan gelisirnya ), payung atau songsong.</p>
<p style="text-align: justify;">Motif batik larangan : Parang rusak ( parang rusak barong , parang rusak gendreh &lt; 8 cm , parang rusak klithik &lt; 4 cm), semen ageng sawat grudha ( gurdha ) , semen ageng sawat lar , udan riris , rujak senthe , parang-parangan yang bukan parang rusak, semua ini besar-kecilnya sesuai menurut ukuran parang rusak.</p>
<p style="text-align: justify;">Semua putra dalem diperbolehkan mengenakan kain-kain tersebut di atas. Busana batik untuk Permaisuri diperbolehkan sama dengan raja. Garwa ampeyan dalem diizinkan memakai parang rusak gendreh kebawah. Garwa Padmi KG Pangeran Adipati sama dengan suaminya. Garwa Ampeyan KG Pangeran Adipati diperbolehkan memakai parang rusak gendreh ke bawah. Demikian pula putra KG Pangeran Adipati. Istri para Pangeran Putra dan Pangeran Putra Raja yang terdahulu ( Pangeran Putra Sentananing Panjenengan dalem Nata ) sama dengan suaminya . Garwa Ampeyan para Pangeran diperbolehkan memakai parang rusak gendreh ke bawah.</p>
<p style="text-align: justify;">Wayah dalem ( cucu Raja ) mengenakan parang rusak gendreh ke bawah. Pun Buyut dalem ( cicit Raja) dan Canggah dalem ( Putranya buyut ). Warengipun Panjenengan dalem Nata ( putra dan putri ) kebawah diperbolehkan mengenakan kain batik parang – parangan harus seling , tidak diperbolehkan byur atau polos.<br />
Pepatih dalem ( Patih Raja ) diperkenankan memakai parang rusak barong kebawah.<br />
Abdidalem : Pengulu Hakim , Wedana Ageng Prajurit , Bupati Nayaka Jawi lan lebet diperkenankan mengenakan parang rusak gendreh kebawah.<br />
Bupati Patih Kadipaten dan Bupati Polisi sama dengan abdidalem tersebut diatas.<br />
Penghulu Landrad , Wedana Keparak para Gusti ( Nyai Riya ), Bupati Anom , Riya Bupati Anom , parang rusak gendreh kebawah.<br />
Abdidalem yang pangkatnya dibawah abdi dalem Riya Bupati Anom dan yang bukan pangkat bupati Anom, yakni yang berpangkat Penewu Tua</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dodolbatik.com/2009/11/29/batik-khas-jogjakarta.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kampung Batik Kauman</title>
		<link>http://dodolbatik.com/2009/11/29/kampung-batik-kauman.php</link>
		<comments>http://dodolbatik.com/2009/11/29/kampung-batik-kauman.php#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 12:37:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Batik]]></category>
		<category><![CDATA[Batik Solo]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[batik]]></category>
		<category><![CDATA[Batik Cap]]></category>
		<category><![CDATA[Batik Kauman]]></category>
		<category><![CDATA[Industri Batik]]></category>
		<category><![CDATA[Motif Batik]]></category>
		<category><![CDATA[Museum batik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dodolbatik.com/?p=47</guid>
		<description><![CDATA[Selain laweyan, kauman juga merupakan sentra industri batik di solo, Ratusan lembar kain batik berusia di atas 35 tahun dipamerkan di sejumlah sudut rumah kayu khas Jawa, yang juga sudah uzur. Berbagai peralatan membatik yang usianya tak kalah tua juga ada di rumah itu. Untuk menggambarkan kejayaan industri batik tempo dulu dipajang pula ratusan cap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Selain laweyan, kauman juga merupakan sentra industri <a title="Batik Solo" href="http://dodolbatik.com" target="_blank">batik di solo</a>, Ratusan lembar kain batik berusia di atas 35 tahun dipamerkan di sejumlah sudut rumah kayu khas Jawa, yang juga sudah uzur. Berbagai peralatan membatik yang usianya tak kalah tua juga ada di rumah itu. Untuk menggambarkan kejayaan industri batik tempo dulu dipajang pula ratusan cap yang menandai produsen batik masa itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Gambaran itulah yang dapat ditemui saat mengunjungi <a title="Museum Batik" href="http://dodolbatik.com" target="_blank">Museum Batik Kaoeman</a>. Museum ini terletak di sebuah sudut Kampung Kauman yang menjadi satu sentra batik di Kota Solo. Keberadaannya terasa tepat di tengah perkampungan yang sejak dulu hidup dari industri batik khas Solo.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-47"></span>Bunga matahari, puspita, sedep malem, anggur, dan pisang bali, adalah sebagian dari cap batik yang dipajang di dinding kayu di beranda rumah yang dijadikan museum itu, pekan lalu. Cap batik pernah mewarnai <a title="Industri batik" href="http://dodolbatik.com" target="_blank">industri batik</a> puluhan tahun lalu.</p>
<p style="text-align: justify;">Memasuki ruang utama, nuansa Jawa tempo dulu sungguh terasa. Lemari kayu berukir yang terlihat klasik menempati beberapa sudut ruang. Lembaran <a title="Kain batik" href="http://dodolbatik.com" target="_blank">kain batik</a> dalam berbagai motif ditaruh di dalamnya. Kain kuno juga dipamerkan di meja, kayu panjang, dan kayu terikat tali yang digantung di atap. Semuanya diberi label untuk menerangkan setiap motif kain batik itu.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://dodolbatik.com/wp-content/uploads/2009/11/batikkaumandodolbatik.jpg" rel="shadowbox[post-47];player=img;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-53" title="batikkauman;dodolbatik" src="http://dodolbatik.com/wp-content/plugins/autothumb/image.php?src=/wp-content/uploads/2009/11/batikkaumandodolbatik-212x300.jpg&amp;aoe=1&amp;q=100&amp;w=212&amp;h=300&amp;hash=5f91a13d9329f2b81a5d25f0701948d0" alt="batikkauman;dodolbatik" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Museum ini lebih dimaksudkan nguri-uri budaya, yaitu <a title="Batik Solo" href="http://dodolbatik.com" target="_blank">batik Solo</a>. Di sini masyarakat dapat melihat dan mempelajari sejarah batik Kauman khususnya, dan batik Solo serta turunannya,&#8221; kata pengelola Museum Batik Kaoeman Gunawan Setiawan.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk tujuan pembelajaran itu, koleksi museum juga dilengkapi peralatan yang digunakan untuk membatik. Alat pres batik dari besi yang digunakan tahun 1940-an ada juga di sana. Ini dipakai untuk merapikan batik yang akan dikemas dalam jumlah banyak. Tak kalah unik adalah alat giling batik dari besi masa 1920-an. Sejumlah alat stempel kuno pun dipamerkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Alat produksi batik lainnya dapat ditemukan di lantai II bangunan di sebelahnya. Berbagai stempel <a title="Motif Batik" href="http://motif.dodolbatik.com" target="_blank">motif</a> untuk membuat batik cap ada di ruangan itu. Alat pres besar dari masa lalu, tetapi kali ini terbuat dari kayu, berdiri kokoh di dekat dinding.</p>
<p style="text-align: justify;">Di tengah acara berkeliling kampung melihat proses produksi dan berburu batik, kunjungan ke museum ini akan memperkaya wawasan tentang sejarah <a title="Batik Solo" href="http://dodolbatik.com" target="_blank">batik di Solo</a>, terutama batik Kauman. Apalagi, koleksi di museum ini merupakan milik warga Kampung Kauman yang sejak dahulu membuat batik.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dodolbatik.com/2009/11/29/kampung-batik-kauman.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kampung Batik Laweyan</title>
		<link>http://dodolbatik.com/2009/11/29/kampung-batik-laweyan.php</link>
		<comments>http://dodolbatik.com/2009/11/29/kampung-batik-laweyan.php#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 12:29:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Batik]]></category>
		<category><![CDATA[Batik Solo]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[batik]]></category>
		<category><![CDATA[Kampung Batik]]></category>
		<category><![CDATA[Laweyan]]></category>
		<category><![CDATA[Mataram]]></category>
		<category><![CDATA[Solo]]></category>
		<category><![CDATA[Surakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dodolbatik.com/?p=45</guid>
		<description><![CDATA[Laweyan adalah salah satu sentral Batik di Solo. Kampung ini Tentunya ada banyak sekali sejarah yang tertinggal di kapung ini dan menjadi icon Batik Solo.
Batik merupakan hasil karya seni tradisional yang banyak ditekuni masyarakat Laweyan. Sejak abad ke-19 kampung ini sudah dikenal sebagai kampung batik. Itulah sebabnya kampung Laweyan pernah dikenal sebagai kampung juragan batik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Laweyan adalah salah satu sentral <a title="Batik" href="http://dodolbatik.com" target="_blank">Batik</a> di Solo. Kampung ini Tentunya ada banyak sekali sejarah yang tertinggal di kapung ini dan menjadi icon Batik Solo.</p>
<p style="text-align: justify;"><a title="Batik" href="http://dodolbatik.com" target="_blank">Batik</a> merupakan hasil karya seni tradisional yang banyak ditekuni masyarakat Laweyan. Sejak abad ke-19 kampung ini sudah dikenal sebagai kampung batik. Itulah sebabnya kampung Laweyan pernah dikenal sebagai kampung juragan batik yang mencapai kejayaannya di era tahun 70-an. Menurut Alpha yang juga pengelola Batik Mahkota.<span id="more-45"></span> Di kawasan Laweyan ada Kampung Laweyan, Tegalsari, Tegalayu, Batikan, dan Jongke, yang penduduknya banyak yang menjadi produsen dan pedagang batik, sejak dulu sampai sekarang. Di sinilah tempat berdirinya Syarekat Dagang Islam, asosiasi dagang pertama yang didirikan oleh para produsen dan pedagang <a title="Batik" href="http://dodolbatik.com" target="_blank">batik</a> pribumi, pada tahun 1912.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://dodolbatik.com/wp-content/uploads/2009/11/kampung-batik-laweyan.JPG" rel="shadowbox[post-45];player=img;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-51" title="kampung-batik-laweyan" src="http://dodolbatik.com/wp-content/plugins/autothumb/image.php?src=/wp-content/uploads/2009/11/kampung-batik-laweyan-300x215.jpg&amp;aoe=1&amp;q=100&amp;w=300&amp;h=215&amp;hash=82af05a49c80448800f2f269f2dadb10" alt="kampung-batik-laweyan" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Bekas kejayaan para saudagar batik pribumi tempo doeloe yang biasa disebut &#8216;Gal Gendhu&#8217; ini bisa dilihat dari peninggalan rumah mewahnya. Di kawasan ini, mereka memang menunjukkan kejayaannya dengan berlomba membangun rumah besar yang mewah dengan arsitektur cantik.</p>
<p style="text-align: justify;">Kawasan Laweyan dilewati Jalan Dr Rajiman, yang berada di poros Keraton Kasunanan Surakarta &#8211; bekas Keraton Mataram di Kartasura. Dari Jalan Dr Rajiman ini, banyak terlihat tembok tinggi yang menutupi rumah-rumah besar, dengan pintu gerbang besar dari kayu yang disebut regol. Sepintas tak terlalu menarik, bahkan banyak yang kusam. Tapi begitu regol dibuka, barulah tampak bangunan rumah besar dengan arsitektur yang indah. Biasanya terdiri dari bangunan utama di tengah, bangunan sayap di kanan-kirinya, dan bangunan pendukung di belakangnya, serta halaman depan yang luas.</p>
<p>Dengan bentuk arsitektur, kemewahan material, dan keindahan ornamennya, seolah para raja batik zaman dulu mau menunjukkan kemampuannya untuk membangun istananya, meski dalam skala yang mini. Salah satu contoh yang bisa dilihat adalah rumah besar bekas saudagar batik yang terletak di pinggir Jalan Dr Rajiman, yang dirawat dan dijadikan homestay Roemahkoe yang dilengkapi restoran Lestari.</p>
<p style="text-align: justify;">Tentu saja tak semuanya bisa membangun &#8220;istana&#8221; yang luas, karena di kanan-kirinya adalah lahan tetangga yang juga membangun &#8220;istana&#8221;-nya se<br />
ndiri-sendiri. Alhasil, kawasan ini dipenuhi dengan berbagai istana mini, yang hanya dipisahkan oleh tembok tinggi dan gang-gang sempit. Semangat berlomba membangun rumah mewah ini tampaknya mengabaikan pentingnya ruang publik. Jalan-jalan kampung menjadi sangat sempit. Terbentuklah banyak gang dengan lorong sempit yang hanya cukup dilewati satu orang atau sepeda motor.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi di sinilah uniknya. Menelusuri lorong-lorong sempit di antara tembok tinggi rumah-rumah kuno ini sangat mengasyikkan. Kita seolah berjalan di antara monumen sejarah kejayaan pedagang <a title="Batik" href="http://dodolbatik.com" target="_blank">batik</a> tempo doeloe. Pola lorong-lorong sempit yang diapit tembok rumah gedongan yang tinggi semacam ini juga terdapat di kawasan Kauman, Kemlayan, dan Pasar Kliwon. Karena mengasyikkan, menelusuri lorong-lorong sejarah kejayaan Laweyan yang eksotis ini bisa menghabiskan waktu. Apalagi jika Anda melongok ke dalam, melihat isi dan keindahan ornamen semua &#8220;istana&#8221; di kawasan ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi sayangnya satu per satu bangunan kuno yang berarsitektur cantik, hancur digempur zaman, digantikan ruko atau bangunan komersial baru yang arsitekturnya sama sekali tidak jelas. Pemerintah daerah setempat tak bertindak apa pun menghadapi kerusakan artefak sejarah ini. Bahkan bekas rumah Ketua Sarekat Dagang Islam H. Samanhoedi, yang seharusnya dilindungi sebagai saksi sejarah, sudah tidak utuh lagi, bagian depannya digempur habis. Bekas istana Mataram di Kartasura juga dibiarkan hancur berantakan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dodolbatik.com/2009/11/29/kampung-batik-laweyan.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Asal Mula dan Sejarah Batik</title>
		<link>http://dodolbatik.com/2009/11/22/asal-mula-dan-sejarah-batik.php</link>
		<comments>http://dodolbatik.com/2009/11/22/asal-mula-dan-sejarah-batik.php#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 12:48:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Asal Usul]]></category>
		<category><![CDATA[batik]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dodolbatik.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Sejarah pembatikan di Indonesia berkait erat dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan penyebaran ajaran Islam di Tanah Jawa. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerjaan Mataram, kemudian pada masa kerajaan Solo dan Yogyakarta.
Jadi kesenian batik ini di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerjaan Majapahit dan terus berkembang kepada kerajaan dan raja-raja berikutnya. Adapun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sejarah pembatikan di Indonesia berkait erat dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan penyebaran ajaran Islam di Tanah Jawa. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerjaan Mataram, kemudian pada masa kerajaan Solo dan Yogyakarta.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi kesenian <a title="Dodol Batik" href="http://dodolbatik.com">batik</a> ini di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerjaan Majapahit dan terus berkembang kepada kerajaan dan raja-raja berikutnya. Adapun mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad ke-18 atau awal abad ke-19. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad ke-20 dan batik cap dikenal baru setelah perang dunia I habis atau sekitar tahun 1920. Adapun kaitan dengan penyebaran ajaran Islam, banyak daerah-daerah pusat perbatikan di Jawa adalah daerah-daerah santri dan kemudian Batik menjadi alat perjuangan ekonomi oleh tokoh-tokoh pedangan Muslim melawan perekonomian Belanda.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-11"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Kesenian batik adalah kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluaga raja-raja Indonesia zaman dulu. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam kraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena banyak dari pengikut raja yang tinggal diluar kraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar kraton dan dikerjakan di tempatnya masing-masing.</p>
<p style="text-align: justify;">Lama-lama kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya untuk mengisi waktu senggang. Selanjutnya, batik yang tadinya hanya pakaian keluarga kraton, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria. Bahan kain putih yang dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://dodolbatik.com/wp-content/uploads/2009/11/034batik_image.jpg" rel="shadowbox[post-11];player=img;"><img class="aligncenter size-full wp-image-10" title="001_dodolbatik.com" src="http://dodolbatik.com/wp-content/plugins/autothumb/image.php?src=/wp-content/uploads/2009/11/034batik_image.jpg&amp;aoe=1&amp;q=100&amp;w=400&amp;h=300&amp;hash=e562822371beaa0f7b4a2cd8f2b38ebb" alt="001_dodolbatik.com" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Sedang bahan-bahan pewarna yang dipakai tediri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri antara lain dari: pohon mengkudu, tinggi, soga, nila, dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanahlumpur.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jaman Majapahit</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><a title="Dodol Batik" href="http://dodolbatik.com">Batik</a> yang telah menjadi kebudayaan di kerajaan Majahit, dapat ditelusuri di daerah Mojokerto dan Tulung Agung. Mojoketo adalah daerah yang erat hubungannya dengan kerajaan Majapahit semasa dahulu dan asal nama Majokerto ada hubungannya dengan Majapahit. Kaitannya dengan perkembangan batik asal Majapahit berkembang di Tulung Agung adalah riwayat perkembangan pembatikan didaerah ini, dapat digali dari peninggalan di zaman kerajaan Majapahit. Pada waktu itu daerah Tulungagung yang sebagian terdiri dari rawa-rawa dalam sejarah terkenal dengan nama daerah Bonorowo, yang pada saat bekembangnya Majapahit daerah itu dikuasai oleh seorang yang benama Adipati Kalang, dan tidak mau tunduk kepada kerajaan Majapahit.</p>
<p style="text-align: justify;">Diceritakan bahwa dalam aksi polisionil yang dilancarkan oleh Majapahati, Adipati Kalang tewas dalam pertempuran yang konon dikabarkan di sekitar desa yang sekarang bernama Kalangbret. Demikianlah maka petugas-petugas tentara dan keluara kerajaan Majapahit yang menetap dan tinggal di wilayah Bonorowo atau yang sekarang bernama Tulungagung antara lain juga membawa kesenian membuat batik asli.</p>
<p style="text-align: justify;">Daerah pembatikan sekarang di Mojokerto terdapat di Kwali, Mojosari, Betero dan Sidomulyo. Di luar daerah Kabupaten Mojokerto ialah di Jombang. Pada akhir abad ke-19 ada beberapa orang kerajinan batik yang dikenal di Mojokerto, bahan-bahan yang dipakai waktu itu kain putih yang ditenun sendiri dan obat-obat batik dari soga jambal, mengkudu, nila tom, tinggi dan sebagainya.</p>
<p style="text-align: justify;">Obat-obat luar negeri baru dikenal sesudah perang dunia I yang dijual oleh pedagang-pedagang Cina di Mojokerto. Batik cap dikenal bersamaan dengan masuknya obat-obat batik dari luar negeri. Cap dibuat di Bangil dan pengusaha-pengusaha batik Mojokerto dapat membelinya di pasar Porong Sidoarjo. Pasar Porong ini sebelum krisis ekonomi dunia dikenal sebagai pasar yang ramai, dimana hasil-hasil produksi batik Kedungcangkring dan Jetis Sidoarjo banyak dijual. Waktu krisis ekonomi, pengusaha batik Mojoketo ikut lumpuh, karena pengusaha-pengusaha kebanyakan kecil usahanya. Sesudah krisis kegiatan pembatikan timbul kembali sampai Jepang masuk ke Indonesia, dan waktu pendudukan Jepang kegiatan pembatikan lumpuh lagi. Kegiatan pembatikan muncul lagi sesudah revolusi dimana Mojokerto sudah menjadi daerah pendudukan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ciri khas dari <a title="Dodol Batik" href="http://dodolbatik.com">batik</a> Kalangbret dari Mojokerto adalah hampir sama dengan batik-batik keluaran Yogyakarta, yaitu dasarnya putih dan warna coraknya coklat muda dan biru tua. Tempat pembatikan yang dikenal sejak lebih dari seabad lalu adalah di desa Majan dan Simo. Desa ini juga mempunyai riwayat sebagai peninggalan dari zaman peperangan Pangeran Diponegoro tahun 1825.</p>
<p style="text-align: justify;">Meskipun pembatikan dikenal sejak jaman Majapahait namun perkembangan batik mulai menyebar pesat di daerah Jawa Tengah Surakarta dan Yogyakata, pada jaman kerajaan di daerah ini. Hal itu tampak bahwa perkembangan batik di Mojokerto dan Tulung Agung berikutnya lebih dipenagruhi corak batik Solo dan Yogyakarta.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika berkecamuknya clash antara tentara kolonial Belanda dengan pasukan-pasukan pangeran Diponegoro maka sebagian dari pasukan-pasukan Kyai Mojo mengundurkan diri ke arah timur dan sampai sekarang bernama Majan. Sejak zaman penjajahan Belanda hingga zaman kemerdekaan ini desa Majan berstatus desa Merdikan (Daerah Istimewa), dan kepala desanya seorang kyai yang statusnya turun-temurun. Pembuatan batik Majan ini merupakan naluri (peninggalan) dari seni membuat batik zaman perang Diponegoro itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Warna babaran <a title="Dodol Batik" href="http://dodolbatik.com">batik</a> Majan dan Simo adalah unik karena warna babarannya merah menyala (dari kulit mengkudu) dan warna lainnya dari tom. Salah satu sentra batik sejak dahulu ada di daerah desa Sembung, yang para pengusaha batik kebanyakan berasal dari Solo yang datang di Tulungagung pada akhir abad ke-19. Hanya sekarang masih terdapat beberapa keluarga pembatikan dari Solo yang menetap di daerah Sembung. Selain dari tempat-tempat tesebut juga terdapat daerah pembatikan di Trenggalek dan juga ada beberapa di Kediri, tetapi sifat pembatikan sebagian kerajinan rumah tangga dan babarannya batik tulis.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jaman Penyebaran Islam</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Riwayat pembatikan di daerah Jawa Timur lainnya adalah di Ponorogo, yang kisahnya berkaitan dengan penyebaran ajaran Islam di daerah ini. Riwayat seni batik didaerah Ponorogo erat hubungannya dengan perkembangan agama Islam dan kerajaan-kerajaan dahulu. Konon, di daerah Batoro Katong, ada seorang keturunan dari kerajaan Majapahit yang namanya Raden Katong adik dari Raden Patah. Batoro Katong inilah yang membawa agama Islam ke Ponorogo dan petilasan yang ada sekarang ialah sebuah mesjid didaerah Patihan Wetan.</p>
<p style="text-align: justify;">Perkembangan selanjutanya, di Ponorogo, di daerah Tegalsari ada sebuah pesantren yang diasuh Kyai Hasan Basri atau yang dikenal dengan sebutan Kyai Agung Tegalsari. Pesantren Tegalsari ini selain mengajarkan agama Islam juga mengajarkan ilmu ketatanegaraan, ilmu perang dan kesusasteraan. Seorang murid yang terkenal dari Tegalsari dibidang sastra ialah Raden Ronggowarsito. Kyai Hasan Basri ini diambil menjadi menantu oleh raja Kraton Solo.</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu itu seni batik baru terbatas dalam lingkungan kraton. Oleh karena putri keraton Solo menjadi istri Kyai Hasan Basri maka dibawalah ke Tegalsari dan diikuti oleh pengiring-pengiringnya. Di samping itu banyak pula keluarga kraton Solo belajar di pesantren ini. Peristiwa inilah yang membawa seni batik keluar dari kraton menuju ke Ponorogo. Pemuda-pemudi yang dididik di Tegalsari ini kalau sudah keluar, dalam masyarakat akan menyumbangkan dharma batiknya dalam bidang-bidang kepamongan dan agama.</p>
<p style="text-align: justify;">Daerah perbatikan lama yang bisa kita lihat sekarang ialah daerah Kauman yaitu Kepatihan Wetan sekarang dan dari sini meluas ke desa-desa Ronowijoyo, Mangunsuman, Kertosari, Setono, Cokromenggalan, Kadipaten, Nologaten, Bangunsari, Cekok, Banyudono dan Ngunut. Waktu itu obat-obat yang dipakai dalam pembatikan ialah buatan dalam negeri sendiri dari kayu-kayuan antara lain: pohon tom, mengkudu, kayu tinggi. Sedangkan bahan kain putihnya juga memakai buatan sendiri dari tenunan gendong. Kain putih impor baru dikenal di Indonesia kira-kira akhir abad ke-19.</p>
<p style="text-align: justify;">Pembuatan <a title="Dodol Batik" href="http://dodolbatik.com">batik</a> cap di Ponorogo baru dikenal setelah perang dunia pertama yang dibawa oleh seorang Cina bernama Kwee Seng dari Banyumas. Daerah Ponorogo awal abad ke-20 terkenal batiknya dalam pewarnaan nila yang tidak luntur dan itulah sebabnya pengusaha-pengusaha batik dari Banyumas dan Solo banyak memberikan pekerjaan kepada pengusaha-pengusaha batik di Ponorogo. Akibat dikenalnya batik cap maka produksi Ponorogo setelah perang dunia petama sampai pecahnya perang dunia kedua terkenal dengan batik kasarnya yaitu batik cap mori biru. Pasaran batik cap kasar Ponorogo kemudian terkenal seluruh Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Batik Solo dan Yogyakarta</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dari kerjaan-kerajaan di Solo dan Yogyakarta sekitar abad 17,18 dan 19, batik kemudian berkembang luas, khususnya di wilayah Pulau Jawa. Awalnya batik hanya sekadar hobi dari para keluarga raja di dalam berhias lewat pakaian. Namun perkembangan selanjutnya, oleh masyarakat batik dikembangkan menjadi komoditi perdagamgan.</p>
<p style="text-align: justify;"><a title="Dodol Batik" href="http://dodolbatik.com">Batik Solo</a> terkenal dengan corak dan pola tradisionalnya batik dalam proses cap maupun dalam batik tulisnya. Bahan-bahan yang dipergunakan untuk pewarnaan masih tetap banyak memakai bahan-bahan dalam negeri seperti soga Jawa yang sudah terkenal sejak dari dahulu. Polanya tetap antara lain terkenal dengan “Sidomukti” dan “Sidoluruh”.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://dodolbatik.com/wp-content/uploads/2009/11/batik1.jpg" rel="shadowbox[post-11];player=img;"><img class="aligncenter size-full wp-image-6" title="002_dodolbatik.com" src="http://dodolbatik.com/wp-content/plugins/autothumb/image.php?src=/wp-content/uploads/2009/11/batik1.jpg&amp;aoe=1&amp;q=100&amp;w=410&amp;h=410&amp;hash=ff6d69b6338fcd2f4dbcdedb1fcae5bf" alt="002_dodolbatik.com" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Sedangkan Asal-usul pembatikan di daerah Yogyakarta dikenal semenjak kerajaan Mataram ke-I dengan rajanya Panembahan Senopati. Daerah pembatikan pertama ialah di desa Plered. Pembatikan pada masa itu terbatas dalam lingkungan keluarga kraton yang dikerjakan oleh wanita-wanita pembantu ratu. Dari sini pembatikan meluas pada trap pertama pada keluarga kraton lainnya yaitu istri dari abdi dalem dan tentara-tentara. Pada upacara resmi kerajaan keluarga kraton baik pria maupun wanita memakai pakaian dengan kombinasi batik dan lurik. Oleh karena kerajaan ini mendapat kunjungan dari rakyat dan rakyat tertarik pada pakaian-pakaian yang dipakai oleh keluarga kraton dan ditiru oleh rakyat dan akhirnya meluaslah pembatikan keluar dari tembok kraton.</p>
<p style="text-align: justify;">Akibat dari peperangan zaman dahulu baik antara keluarga raja-raja maupun antara penjajahan Belanda, maka banyak keluarga-keluarga raja yang mengungsi dan menetap di daerah-daerah baru antara lain ke Banyumas, Pekalongan, dan ke daerah timur Ponorogo, Tulungagung dan sebagainya. Meluasnya daerah pembatikan ini sampai ke daerah-daerah itu menurut perkembangan sejarah perjuangan bangsa Indonesia dimulai abad ke-18. Keluarga-keluarga kraton yang mengungsi inilah yang mengembangkan pembatikan ke seluruh pelosok pulau Jawa yang ada sekarang dan berkembang menurut alam dan daerah baru itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Perang Pangeran Diponegoro melawan Belanda, mendesak sang pangeran dan keluarganya serta para pengikutnya harus meninggalkan daerah kerajaan. Mereka kemudian tersebar ke arah timur dan barat. Kemudian di daerah-daerah baru itu para keluarga dan pengikut pangeran Diponegoro mengembangkan batik.</p>
<p style="text-align: justify;">Ke timur batik Solo dan Yogyakarta menyempurnakan corak batik yang telah ada di Mojokerto serta Tulung Agung. Selain itu juga menyebar ke Gresik, Surabaya dan Madura. Sedang ke arah Barat batik berkembang di Banyumas, Pekalongan, Tegal, Cirebon.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Perkembangan Batik di Kota-kota lain</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Perkembangan <a title="Dodol Batik" href="http://dodolbatik.com">batik</a> di Banyumas berpusat di daerah Sokaraja dibawa oleh pengikut-pengikut Pangeran Diponegero setelah selesainya peperangan tahun 1830. Mereka kebanyakan menetap di daerah Banyumas. Pengikutnya yang terkenal waktu itu ialah Najendra dan dialah mengembangkan batik celup di Sokaraja. Bahan mori yang dipakai hasil tenunan sendiri dan obat pewarna dipakai pohon tom, pohon pace dan mengkudu yang memberi warna merah kesemuan kuning.</p>
<p style="text-align: justify;">Lama kelamaan pembatikan menjalar pada rakyat Sokaraja dan pada akhir abad ke-19 berhubungan langsung dengan pembatik di daerah Solo dan Ponorogo. Daerah pembatikan di Banyumas sudah dikenal sejak dahulu dengan motif dan warna khususnya dan sekarang dinamakan batik Banyumas. Setelah perang dunia kesatu pembatikan mulai pula dikerjakan oleh Cina disamping mereka dagang bahan batik. .</p>
<p style="text-align: justify;">Sama halnya dengan pembatikan di Pekalongan, para pengikut Pangeran Diponegoro yang menetap di daerah ini kemudian mengembangkan usaha batik di sekitara daerah pantai ini, yaitu selain di daerah Pekalongan sendiri, batik tumbuh pesat di Buawaran, Pekajangan dan Wonopringgo. Adanya pembatikan di daerah-daerah ini hampir bersamaan dengan pembatikan daerah-daerah lainnya yaitu sekitar abad ke-19. Perkembangan pembatikan di daerah-daerah luar selain dari Yogyakarta dan Solo erat hubungannya dengan perkembangan sejarah kerajaan Yogya dan Solo.</p>
<p style="text-align: justify;">Meluasnya pembatikan keluar dari kraton setelah berakhirnya perang Diponegoro dan banyaknya keluarga kraton yang pindah ke daerah-daerah luar Yogya dan Solo karena tidak mau kerjasama dengan pemerintah kolonial. Keluarga kraton itu membawa pengikut-pengikutnya ke daerah baru itu dan di tempat itu kerajinan batik terus dilanjutkan dan kemudian menjadi pekerjaan untuk pencaharian.</p>
<p style="text-align: justify;">Corak <a title="Dodol Batik" href="http://dodolbatik.com">batik</a> di daerah baru ini disesuaikan pula dengan keadaan daerah sekitarnya. Pekalongan khususnya dilihat dari proses dan desainnya banyak dipengaruhi oleh batik dari Demak. Sampai awal abad ke-20 proses pembatikan yang dikenal ialah batik tulis dengan bahan morinya buatan dalam negeri dan juga sebagian import. Setelah perang dunia kesatu baru dikenal pembikinan batik cap dan pemakaian obat-obat luar negeri buatan Jerman dan Inggris.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada awal abad ke-20 pertama kali dikenal di Pekajangan ialah pertenunan yang menghasilkan stagen dan benangnya dipintal sendiri secara sederhana. Beberapa tahun belakangan baru dikenal pembatikan yang dikerjakan oleh orang-orang yang bekerja disektor pertenunan ini. Pertumbuhan dan perkembangan pembatikan lebih pesat dari pertenunan stagen dan pernah buruh-buruh pabrik gula di Wonopringgo dan Tirto lari ke perusahaan-perusahaan batik, karena upahnya lebih tinggi dari pabrik gula.</p>
<p style="text-align: justify;">Sedang pembatikan dikenal di Tegal akhir abad ke-19. Pewarna yang dipakai waktu itu buatan sendiri yang diambil dari tumbuh-tumbuhan: pace/mengkudu, nila, soga kayu dan kainnya tenunan sendiri. Warna batik Tegal pertama kali ialah sogan dan babaran abu-abu setelah dikenal nila pabrik, dan kemudian meningkat menjadi warna merah-biru. Pasaran batik Tegal waktu itu sudah keluar daerah antara lain Jawa Barat dibawa sendiri oleh pengusaha-pengusaha secara jalan kaki dan mereka inilah menurut sejarah yang mengembangkan batik di Tasik dan Ciamis di samping pendatang-pendatang lainnya dari kota-kota batik Jawa Tengah.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada awal abad ke-20 sudah dikenal mori import dan obat-obat import baru dikenal sesudah perang dunia kesatu. Pengusaha-pengusaha batik di Tegal kebanyakan lemah dalam permodalan dan bahan baku didapat dari Pekalongan dan dengan kredit dan batiknya dijual pada Cina yang memberikan kredit bahan baku tersebut. Waktu krisis ekonomi pembatik-pembatik Tegal ikut lesu dan baru giat kembali sekitar tahun 1934 sampai permulaan perang dunia kedua. Waktu Jepang masuk kegiatan pembatikan mati lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikian pila sejarah pembatikan di Purworejo bersamaan adanya dengan pembatikan di Kebumen yaitu berasal dari Yogyakarta sekitar abad ke-19. Pekembangan kerajinan batik di Purworejo dibandingkan dengan di Kebumen lebih cepat di Kebumen. Produksinya sama pula dengan Yogya dan daerah Banyumas lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sedangkan di daerah Bayat, Kecamatan Tembayat Kebumen, yang letaknya lebih kurang 21 Km sebelah Timur kota Klaten. Daerah Bayat ini adalah desa yang terletak di kaki gunung tetapi tanahnya gersang dan minus. Daerah ini termasuk lingkungan Karesidenan Surakarta dan Kabupaten Klaten dan riwayat pembatikan disini sudah pasti erat hubungannya dengan sejarah kerajaan kraton Surakarta masa dahulu. Desa Bayat ini sekarang ada pertilasan yang dapat dikunjungi oleh penduduknya dalam waktu-waktu tertentu yaitu “makam Sunan Bayat” di atas gunung Jabarkat. Jadi pembatikan didesa Bayat ini sudah ada sejak zaman kerjaan dahulu. Pengusaha-pengusaha batik di Bayat tadinya kebanyakan dari kerajinan dan buruh batik di Solo.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara pembatikan di Kebumen dikenal sekitar awal abad ke-19 yang dibawa oleh pendatang-pendatang dari Yogya dalam rangka dakwah Islam antara lain yang dikenal ialah: Penghulu Nusjaf. Beliau inilah yang mengembangkan batik di Kebumen dan tempat pertama menetap ialah sebelah Timur Kali Lukolo sekarang dan juga ada peninggalan masjid atas usaha beliau. Proses batik pertama di Kebumen dinamakan tengabang atau blambangan dan selanjutnya proses terakhir dikerjakan di Banyumas/Solo. Sekitar awal abad ke-20 untuk membuat polanya dipergunakan kunir yang capnya terbuat dari kayu. Motif-motif Kebumen ialah: pohon-pohon, burung-burungan. Bahan-bahan lainnya yang dipergunakan ialah pohon pace, kemudu dan nila tom.</p>
<p style="text-align: justify;">Pemakaian obat-obat import di Kebumen dikenal sekitar tahun 1920 yang diperkenalkan oleh pegawai Bank Rakyat Indonesia yang akhimya meninggalkan bahan-bahan bikinan sendiri, karena menghemat waktu. Pemakaian cap dari tembaga dikenal sekitar tahun 1930 yang dibawa oleh Purnomo dari Yogyakarta. Daerah pembatikan di Kebumen ialah desa: Watugarut, Tanurekso yang banyak dan ada beberapa desa lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dilihat dengan peninggalan-peninggalan yang ada sekarang dan cerita-cerita yang turun-temurun, maka diperkirakan di daerah Tasikmalaya batik dikenal sejak zaman “Tarumanagara” dimana peninggalan yang ada sekarang ialah banyaknya pohon tarum di sana yang berguna untuk pembuatan batik waktu itu. Desa peninggalan yang sekarang masih ada pembatikan ialah Wurug terkenal dengan batik kerajinannya, Sukapura, Mangunraja, Maronjaya dan Tasikmalaya kota.</p>
<p style="text-align: justify;">Dahulu pusat dari pemerintahan dan keramaian yang terkenal ialah desa Sukapura, Indihiang yang terletak di pinggir kota Tasikmalaya sekarang. Kira-kira akhir abad ke-17 dan awal abad ke-18 akibat dari peperangan antara kerajaan di Jawa Tengah, maka banyak dari penduduk daerah: Tegal, Pekalongan, Banyumas dan Kudus yang merantau ke daerah Barat dan menetap di Ciamis dan Tasikmalaya. Sebagian besar dari mereka ini adalah pengusaha-pengusaha batik daerahnya dan menuju ke arah Barat sambil berdagang batik. Dengan datangnya penduduk baru ini, dikenallah pembuatan baik memakai soga yang asalnya dari Jawa Tengah. Produksi batik Tasikmalaya sekarang adalah campuran dari batik-batik asal Pekalongan, Tegal, Banyumas, Kudus yang beraneka pola dan warna.</p>
<p style="text-align: justify;">Pembatikan dikenal di Ciamis sekitar abad ke-19 setelah selesainya peperangan Diponegoro, dimana pengikut-pengikut Diponegoro banyak yang meninggalkan Yogyakarta, menuju ke selatan. Sebagian ada yang menetap didaerah Banyumas dan sebagian ada yang meneruskan perjalanan ke selatan dan menetap di Ciamis dan Tasikmalaya sekarang. Mereka ini merantau dengan keluargany a dan ditempat baru menetap menjadi penduduk dan melanjutkan tata cara hidup dan pekerjaannya. Sebagian dari mereka ada yang ahli dalam pembatikan sebagai pekerjaan kerajinan rumah tangga bagi kaum wanita. Lama kelamaan pekerjaan ini bisa berkembang pada penduduk sekitarnya akibat adanya pergaulan sehari-hari atau hubungan keluarga. Bahan-bahan yang dipakai untuk kainnya hasil tenunan sendiri dan bahan catnya dibuat dari pohon seperti: mengkudu, pohon tom, dan sebagainya.</p>
<p style="text-align: justify;">Motif <a title="Dodol Batik" href="http://dodolbatik.com">batik</a> hasil Ciamis adalah campuran dari batik Jawa Tengah dan pengaruh daerah sendiri terutama motif dan warna Garutan. Sampai awal-awal abad ke-20 pembatikan di Ciamis berkembang sedikit demi sedikit, dari kebutuhan sendiri menjadi produksi pasaran. Sedang di daerah Cirebon batik ada kaintannya dengan kerajaan yang ada di aerah ini, yaitu Kanoman, Kasepuahn dan Keprabonan. Sumber utama batik Cirebon, kasusnya sama seperti yang di Yogyakarta dan Solo. Batik muncul lingkungan kraton, dan dibawa keluar oleh abdi dalem yang bertempat tinggal di luar kraton. Raja-raja jaman dulu senang dengan lukisan-lukisan dan sebelum dikenal benang katun, lukisan itu ditempatkan pada daun lontar. Hal itu terjadi sekitar abad ke-13. Ini ada kaitannya dengan corak-corak batik di atas tenunan. Ciri khas batik Cirebonan sebagaian besar bermotifkan gambar yang lambang hutan dan margasatwa. Sedangkan adanya motif laut karena dipengaruhioleh alam pemikiran Cina, dimana kesultanan Cirebon dahulu pernah menyunting putri Cina. Sementra batik Cirebonan yang bergambar garuda karena dipengaruhi oleh motif batik Yogya dan Solo.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pembatikan di Jakarta</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pembatikan di Jakarta dikenal dan berkembangnya bersamaan dengan daerah-daerah pembatikan lainnya yaitu kira-kira akhir abad ke-19. Pembatikan ini dibawa oleh pendatang-pendatang dari Jawa Tengah dan mereka bertempat tinggal kebanyakan di daerah-daerah pembatikan. Daerah pembatikan yang dikenal di Jakarta tersebar dekat Tanah Abang yaitu: Karet, Bendungan Hilir dan Udik, Kebayoran Lama, dan daerah Mampang Prapatan serta Tebet.</p>
<p style="text-align: justify;">Jakarta sejak zaman sebelum perang dunia kesatu telah menjadi pusat perdagangan antar daerah Indonesia dengan pelabuhannya Pasar Ikan sekarang. Setelah perang dunia kesatu selesai, dimana proses pembatikan cap mulai dikenal, produksi batik meningkat dan pedagang-pedagang batik mencari daerah pemasaran baru. Daerah pasaran untuk tekstil dan batik di Jakarta yang terkenal ialah: Tanah Abang, Jatinegara dan Jakarta Kota, yang terbesar ialah Pasar Tanah Abang sejak dari dahulu sampai sekarang. Batik-batik produksi daerah Solo, Yogya, Banyumas, Ponorogo, Tulungagung, Pekalongan, Tasikmalaya, Ciamis dan Cirebon serta lain-lain daerah, bertemu di Pasar Tanah Abang dan dari sini baru dikirim kedaerah-daerah diluar Jawa. Pedagang-pedagang batik yang banyak ialah bangsa Cina dan Arab, bangsa Indonesia sedikit dan kecil.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena pusat pemasaran <a title="Dodol Batik" href="http://dodolbatik.com">batik</a> sebagian besar di Jakarta khususnya Tanah Abang, dan juga bahan-bahan baku batik diperdagangkan ditempat yang sama, maka timbul pemikiran dari pedagang-pedagang batik itu untuk membuka perusahaan batik di Jakarta dan tempatnya ialah berdekatan dengan Tanah Abang. Pengusaha-pengusaha batik yang muncul sesudah perang dunia kesatu, terdiri dari bangsa cina, dan buruh-buruh batiknya didatangkan dari daerah-daerah pembatikan Pekalongan, Yogya, Solo dan lain-lain. Selain dari buruh batik luar Jakarta itu, maka diambil pula tenaga-tenaga setempat di sekitar daerah pembatikan sebagai pembantunya. Berikutnya, melihat perkembangan pembatikan ini membawa lapangan kerja baru, maka penduduk asli daerah tersebut juga membuka perusahaan-perusahaan batik. Motif dan proses batik Jakarta sesuai dengan asal buruhnya didatangkan yaitu: Pekalongan, Yogya, Solo dan Banyumas.</p>
<p style="text-align: justify;">Bahan-bahan baku batik yang dipergunakan ialah hasil tenunan sendiri dan obat-obatnya hasil ramuan sendiri dari bahan-bahan kayu mengkudu, pace, kunyit dan sebagainya. Batik Jakarta sebelum perang terkenal dengan batik kasarnya warnanya sama dengan batik Banyumas. Sebelum perang dunia kesatu bahan-bahan baku cambric sudah dikenal dan pemasaran hasil produksinya di Pasar Tanah Abang dan daerah sekitar Jakarta.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pembatikan di Luar Jawa</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dari Jakarta, yang menjadi tujuan pedagang-pedagang di luar Jawa, maka batik kemudian berkembang di seluruh penjuru kota-kota besar di Indonesia yang ada di luar Jawa, daerah Sumatera Barat misalnya, khususnya daerah Padang, adalah daerah yang jauh dari pusat pembatikan dikota-kota Jawa, tetapi pembatikan bisa berkembang didaerah ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Sumatera Barat termasuk daerah konsumen batik sejak zaman sebelum perang dunia kesatu, terutama batik-batik produksi Pekalongan (saaingnya) dan Solo serta Yogya. Di Sumatera Barat yang berkembang terlebih dahulu adalah industri tenun tangan yang terkenal “tenun Silungkang” dan “tenun plekat”. Pembatikan mulai berkembang di Padang setelah pendudukan Jepang, dimana sejak putusnya hubungan antara Sumatera dengan Jawa waktu pendudukan Jepang, maka persediaan-persediaan batik yang ada pada pedagang-pedagang batik sudah habis dan konsumen perlu batik untuk pakaian sehari-hari mereka. Ditambah lagi setelah kemerdekaan Indonesia, dimana hubungan antara kedua pulau bertambah sukar, akibat blokade-blokade Belanda, maka pedagang-pedagang batik yang biasa hubungan dengan pulau Jawa mencari jalan untuk membuat batik sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan hasil karya sendiri dan penelitian yang seksama, dari batik-batik yang dibuat di Jawa, maka ditirulah pembuatan pola-polanya dan ditrapkan pada kayu sebagai alat cap. Obat-obat batik yang dipakai juga hasil buatan sendiri yaitu dari tumbuh-tumbuhan seperti mengkudu, kunyit, gambir, damar dan sebagainya. Bahan kain putihnya diambilkan dari kain putih bekas dan hasil tenun tangan. Perusahaan batik pertama muncul yaitu daerah Sampan Kabupaten Padang Pariaman tahun 1946 antara lain: Bagindo Idris, Sidi Ali, Sidi Zakaria, Sutan Salim, Sutan Sjamsudin dan di Payakumbuh tahun 1948 Sdr. Waslim (asal Pekalongan) dan Sutan Razab. Setelah daerah Padang serta kota-kota lainnya menjadi daerah pendudukan tahun 1949, banyak pedagang-pedagang batik membuka perusahaan-perusahaan/bengkel batik dengan bahannya didapat dari Singapore melalui pelabuhan Padang dan Pakanbaru. Tetapi pedagang-pedagang batik ini setelah ada hubungan terbuka dengan pulau Jawa, kembali berdagang dan perusahaanny a mati.</p>
<p style="text-align: justify;">Warna dari <a title="Dodol Batik" href="http://dodolbatik.com">batik</a> Padang kebanyakan hitam, kuning dan merah ungu serta polanya Banyumasan, Indramayu-an, Solo dan Yogya. Sekarang <a title="Dodol Batik" href="http://dodolbatik.com">batik </a>produksi Padang lebih maju lagi tetapi tetap masih jauh dari produksi-produksi di pulau Jawa. Alat untuk cap sekarang telah dibuat dari tembaga dan produksinya kebanyakan sarung.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><em>Sumber : [Dikutip dari buku 20 Tahun GKBI]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dodolbatik.com/2009/11/22/asal-mula-dan-sejarah-batik.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengawali Postingan dengan Bismillah [ BETA ]</title>
		<link>http://dodolbatik.com/2009/11/21/mengawali-postingan-dengan-bismillah-beta.php</link>
		<comments>http://dodolbatik.com/2009/11/21/mengawali-postingan-dengan-bismillah-beta.php#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 12:50:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[batik]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dodolbatik.com/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[Setelah beberapa waktu tertunda untuk dapat up, maka resmi pada Hari Kamis, 19 November 2009.  Dengan awal sebuah postingan ini [ BETA ] dodolbatik.com dapat menjadi rujukan dan tempat untuk jual beli berbagai macam barang yang mempunyai hubungan dengan batik. Selain untuk tempat anda jual dan beli batik, kami juga berharap agar dodolbatik.com dapat menjadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Setelah beberapa waktu tertunda untuk dapat up, maka resmi pada Hari Kamis, 19 November 2009.  Dengan awal sebuah postingan ini [ BETA ] <a title="Dodol Batik" href="http://dodolbatik.com">dodolbatik.com</a> dapat menjadi rujukan dan tempat untuk jual beli berbagai macam barang yang mempunyai hubungan dengan batik. Selain untuk tempat anda jual dan beli batik, kami juga berharap agar <a title="Dodol Batik" href="http://dodolbatik.com">dodolbatik.com</a> dapat menjadi sumber informasi khususnya batik, bagi anda yang selalu membutuhkan update informasi.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-5"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Belum lama ini, batik telah disahkan menjadi warisan budaya dunia yang berasal dari Indonesia. Sebagai warga negara yang merasa memiliki kebudayaan batik, maka kita harus selalu menjaga agar keutuhan dan kepemilikan budaya bangsa kita tetap terjaga. Apabila kebudayaan kita tidak dijaga oleh bangsa kita, maka bukan tidak mungkin kalau bangsa lain akan merebut atau mengklaim kebudayaan kita misalnya batik.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan semakin berkembangnya zaman, maka batik tidak hanya dibuat untuk model-model tertentu saja. Dulu, batik hanya digunakan untuk membuat semacam kain untuk selendang atau kain-kain besar. Tetapi sekarang batik sudah digunakan untuk berbagai macam model sehingga dapat digunakan untuk berbagai acara baik formal maupun non formal.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhir kata, untuk mengawali postingan <a title="Dodol Batik" href="http://dodolbatik.com">dodolbatik.com</a> kamiucapkan selamat bergabung di <a title="Dodol Batik" href="http://dodolbatik.com">dodolbatik.com</a> dan semoga <a title="Dodol Batik" href="http://dodolbatik.com">dodolbatik.com</a> dapat menjadi rujukan anda dalam menjual dan membeli produk-produk batik serta mengupdate informasi khususnya tentang batik.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dodolbatik.com/2009/11/21/mengawali-postingan-dengan-bismillah-beta.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
